
...***...
"Kita tidak pernah tahu, 'kan?" ujar Linda seraya mengedikan bahunya.
"Dia sudah bilang kalau hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan, itu saja."
"Ya, memang benar. Tapi itu di kantor, dan saat jam kerja. Lagipula sepertinya dia tertarik denganmu, mungkin saja Leon suka denganmu."
"Apa? Tidak mungkin! Lelaki menyebalkan seperti dia suka denganku? Yang benar saja. Hobinya sejak awal adalah membuat hidupku susah, mana mungkin dia suka denganku."
"Tapi buktinya, kau adalah satu-satunya wanita yang dekat dengannya. Lagipula aku tidak pernah melihat dia dekat dengan pegawai lain, selain dirimu. Bahkan sekretarisnya saja tidak sedekat itu dengannya, ditambah lagi sepertinya dia tidak memiliki pacar. Aku belum pernah melihatnya menggandeng seorang perempuan."
"Itu karena si menyebalkan itu terus mengerjaiku dengan berbagai pekerjaan yang bahkan di luar dari tugasku. Lagipula siapa yang ingin menjadi pacarnya? Dia itu menyebalkan!"
"Tapi kau suka dengan sikapnya yang sekarang, 'kan? Dia sudah tidak terus memerintahmu dan mulai bersikap baik padamu demi menarik perhatianmu, bahkan kau sampai terus kepikiran mengenai sikapnya." Linda menggoda Elvina.
"Suka? Aku justru takut dengan sikapnya."
"Kenapa begitu?"
"Dia tiba-tiba bersikap aneh, tidak seperti biasanya. Tentu saja membuatku takut! Apakah jangan-jangan aku telah membuat kesalahan sampai-sampai membuatnya bersikap seperti ini? Bagaimana kalau tiba-tiba dia berubah baik hanya karena ingin berusaha menyingkirkanku dari perusahaan?" Elvina mulai cemas.
Linda hanya bisa memutar bola matanya malas menanggapi kepolosan sahabatnya yang tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun itu.
"Tidak mungkin dia seperti itu."
"Sudahlah kau jangan terlalu cepat menyimpulkan. Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku! Sekarang ayo kita masuk. Kita harus bekerja." Linda menarik Elvina dan menyeretnya masuk ke dalam, sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, Elvina terus saja berandai-andai.
...*...
Bel pertanda istirahat baru saja berbunyi, dan seluruh siswa mulai berhamburan keluar dari dalam kelasnya masing-masing.
Lusia berjalan menyusuri lorong yang penuh dengan rak tinggi berisi buku-buku. Dirinya berada di perpustakaan, ia sedang mencari salah satu buku sejarah yang diminta oleh gurunya untuk mata pelajaran IPS yang akan ia ikuti usai istirahat.
"Ketemu," gumam Lusia seraya tersenyum menatap buku yang sejak tadi dicarinya. Buku-buku yang dicarinya berada di rak paling atas, berjejer rapi, namun di penuhi debu.
Nampak jelas bahwa buku-buku itu sudah cukup lama tak tersentuh.
"Tinggi sekali, bagaimana cara aku mengambilnya?" Lusia memonolog. Ia berusaha mencari ide. Kepalanya celingukan mencari tangga pendek yang biasa menjadi pijakan, sialnya benda itu tak ada di dekatnya.
Lusia melangkah keluar dari balik rak dan mencari seseorang untuk dimintai tolong, lagi-lagi nasibnya kurang beruntung karena semua orang tengah sangat sibuk.
Beberapa orang siswa berlalu-lalang di sekitarnya dengan membawa setumpuk buku, berjalan dengan tergesa-gesa.
Lusia bahkan sampai menghentikan salah satu orang siswa untuk dimintai tolong, tapi dia menolak.
...***...