Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 30 - Cemas



...***...


Leon mendelik menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Sudah berjam-jam, ia meminta Elvina untuk membelikannya kopi dan camilan. Namun, wanita itu tak kunjung kembali. Leon sudah mulai kesal menunggu.


"Kemana dia? Jangan-jangan dia lari dari tanggung jawabnya," gumam Leon dengan raut wajah masam. Ia beranjak dari kursi kebesarannya, meraih jasnya yang tergantung di kursi lalu melangkah keluar.


Leon menutup pintu ruangannya dengan sedikit kasar sampai membuat sekretarisnya tersentak kaget.


"Pak, anda mau kemana?"


"Aku ada urusan sebentar, nanti aku kembali," tukasnya tanpa menoleh.


Leon terus melangkah menyusuri koridor hingga tiba di lift. Setelah menunggu sebentar, ia segera masuk dan menekan tombol yang akan langsung mengantarkannya menuju ruangan Elvina untuk mengecek keberadaannya.


Tiba di lantai yang ditujunya, ia segera melangkah menuju ruangan Elvina. Leon sempat berpapasan dengan beberapa orang pegawai di sana, dan ia menanyakan tentang Elvina.


"Kami tidak melihatnya kembali setelah beliau pergi mengirimkan berkas yang beliau bawa," tutur pegawai yang ditanyainya.


"Jadi, dia belum kembali sejak tadi?"


"Belum." Wanita itu menggeleng pelan.


Leon mendengus. Ia segera melenggang pergi keluar dari dalam kantor.



...*...


Elvina terdiam di bangku taman kantornya. Taman itu berada di samping gedung kantornya. Ia duduk di bawah pohon rindang yang begitu teduh melindungi tubuhnya dari sinar matahari yang begitu terik.


"Astaga, Rei. Kenapa begitu lama?" Elvina melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir dua puluh menit berlalu, tapi Rei tak kunjung kembali. "Ah… tamatlah sudah riwayatku."


Di sisi lain, Leon melangkah keluar dari dalam kantor. Ia hendak menghampiri mobilnya yang terparkir di tempat parkir yang letaknya berdekatan dengan taman.


Atensinya lebih dulu beralih pada wanita berambut panjang bergelombang yang duduk di bangku yang ada.


Leon menyipitkan kedua matanya, berusaha memperjelas penglihatannya.


"Elvina?" gumamnya pelan. "Aku suruh dia untuk membeli kopi, dia malah asik santai-santai di sana," gerutunya yang dengan kesal menghampiri wanita yang terduduk di sana.


"Aku menyuruhmu untuk membeli kopi, bukannya malah bersantai di sini," tukasnya.


Elvina tertegun. Ia menoleh spontan ke arah datangnya suara dan mendapati sosok Leon yang berdiri tak jauh dari posisinya berada.


"P… pak wakil direktur…" Elvina refleks bangun dari tempat duduknya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini, dan mana kopi yang aku minta?"


"Ng… anu… itu, tadi…" Elvina terbata-bata. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Elvina bingung harus bagaimana menjelaskannya.


Leon menatap Elvina dari atas sampai bawah. Ia membulatkan mata, ketika sadar penampilan wanita itu begitu kacau. Raut wajahnya berubah cemas melihat keadaannya.


Leon menghampiri Elvina. "A… apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tampak begitu kacau? Apakah kau kecelakaan?" Leon memegang kedua pundak Elvina, memandangnya dengan begitu panik. Ia membolak-balik tubuh Elvina guna memastikan seberapa banyak luka di tubuhnya.


Elvina terkejut. Tubuhnya membatu melihat sosok Leon yang begitu panik melihat keadaannya.


"Apa yang terjadi denganmu sampai kau seperti ini?" Leon beradu pandang dengan Elvina.


Elvina terdiam. Ia dapat melihat sorot mata Leon yang entah kenapa berubah saat melihat keadaannya seperti ini. Sorot matanya berbeda dari biasanya saat Leon bersikap menjengkelkan.


...***...