Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 460 - Akan kusampaikan



...***...


Waktu berlalu, dan hari semakin sore. Sudah berjam-jam lamanya Elvina dan Rei mencari William yang diculik oleh Joe.


"Kita gagal menemukannya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Elvina bergumam dengan wajah frustasi. Pakaiannya sudah benar-benar terlihat berantakan karena terus berlarian mencari adiknya.


Keringat membasahi kening Elvina, dan tubuhnya benar-benar bau akibat paparan cahaya matahari.


Rei duduk di sampingnya. Ia menyodorkan sebuah minuman kaleng dingin yang baru dibelinya.


"Kita tidak gagal. Kita hanya belum berhasil menemukannya." Rei menjawab sambil mengusap bibirnya yang basah.


Elvina membuka minuman tadi, lalu meneguk isinya.


"Bagaimana kalau Joe langsung membawanya pada profesor? Kalau itu sampai terjadi, maka kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi."



"Kalau itu memang benar, kita hanya perlu pergi dan mengejarnya. Kita gagalkan itu sebelum mereka berhasil melakukan sesuatu pada Will."


Elvina menghela napas panjang. Ide dari Rei terdengar gila.


"Itu tidak mungkin. Kalau kita mengejarnya hingga ke markas mereka, maka yang ada, mereka yang menangkap kita."


Perhatian Elvina mendadak beralih pada ponselnya yang berdering. Ia segera mengeluarkan ponselnya.


Layar yang menyala menampakkan panggilan dari ibunya.


"Mama telpon, sekarang apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku bicara yang sejujurnya 'kan? Bisa-bisa mama pingsan mendengar Will hilang." Elvina resah bukan main.


"Katakan saja Will baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa."


"Akan kulakukan." Elvina menyetujui. Memang tidak ada cara lain selain mengatakan sebuah kebohongan demi menutupi kenyataan pahit yang akan membuat ibunya pingsan.


Elvina menekan tombol hijau yang dalam sekejap menyambungkan sambungan telponnya.


"H… halo?" Elvina menjawab dengan terbata.


Elvina terisak tanpa sadar. Ia menggigit tangannya guna menahan suaranya agar Indri tak mendengar. Bisa cemas kalau Indri sampai dengar dirinya menangis.


"Kau harus tenang, jangan menangis seperti ini. Nanti mamamu semakin cemas." Rei berbisik berusaha membuat Elvina tenang.


"A… aku tidak bisa melakukannya…" Elvina berujar dengan isakan yang semakin sulit ditahannya. Pundaknya sampai bergetar.


"Elvina?" Indri di seberang sana berusaha mendapatkan jawaban dari putri sulungnya.


"Y… ya, ma?" Elvina berusaha menahan diri.


"Kau tenang dulu, atur napasmu," bisik Rei lagi.


Elvina mengangguk pelan lalu mengatur napasnya. Ia menarik napasnya lewat hidung, lalu menghembuskannya lewat mulut. Terus melakukan itu berulangkali hingga benar-benar merasa sedikit tenang.


"El? Sayang? Kenapa kau diam saja? Jangan membuat mama semakin cemas," kata Indira.


"Semuanya baik-baik saja, ma."


"Sungguh? Syukurlah… mama lega mendengarnya. Jadi kau sudah bertemu dengan William?"


"Y… ya. Aku sudah bertemu dengannya, dan dia bilang akan pulang agak malam karena beberapa Minggu lagi dia harus ikut pertandingan."


"Begitu rupanya, pantas saja mama tidak bisa menghubunginya."


"Ponselnya di silent agar dia bisa fokus berlatih."


"Baiklah, mama tidak akan menghubunginya. Katakan padanya jangan lupa untuk makan dan istirahat secukupnya, jangan berlatih terlalu lama. Bagaimanapun, dia harus tetap jaga kesehatan."


"Akan Elvina sampaikan…"


"Kau juga, jaga adikmu dan pastikan dia tetap sehat. Kau juga jangan lupa untuk jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak bekerja."


"Iya baik, ma." Elvina kembali terisak pelan.


...***...