
...***...
Leon kebingungan mencari Elvina yang mendadak hilang dari tempat duduknya.
Ia seperti orang yang habis di hipnotis, tidak ingat apa-apa dengan apa yang terjadi sebelum waktu dihentikan Joe.
"Kemana Elvina pergi? Bukankah seharusnya dia di sini? Apa yang aku lakukan di luar sini?" Berbagai pertanyaan itu terus terlontar dari mulutnya.
Leon terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Elvina di sekeliling tempatnya tiba-tiba menghentikan mobilnya, tapi ia sama sekali tak dapat menemukan keberadaan wanita itu dimana pun.
"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa ingat dengan apa yang terjadi terakhir kali? Ayolah Leon! Coba ingat-ingat lagi, kemana perginya Elvina!" Leon memonolog, ia memukul-mukul kepalanya pelan, berharap ia ingat apa yang terjadi sebelum ia sadar.
Aku sungguh tidak ingat apa-apa, batinnya yang setelah beberapa saat terus berpikir tapi tak menemukan apa-apa dalam ingatannya.
Perhatian Leon tersita oleh kedatangan Rei yang berjalan memapah Elvina dari arah jalan dihadapannya.
Leon yang melihat itu bergegas menghampiri Elvina yang terlihat lemas dengan beberapa luka di tubuhnya.
"Astaga, Elvina!" Leon menatapnya terkejut. Baru Elvina mendongak, Leon mendadak membuatnya sport jantung dengan tiba-tiba memeluknya erat.
"Syukurlah kau kembali. Aku benar-benar mencemaskanmu, sejak tadi aku mencarimu kemana-mana," bisik Leon tepat di telinganya.
Elvina membatu dalam posisinya. Ia membulatkan kedua matanya, jantungnya tanpa ia sadari berdebar begitu kencang saat Leon memeluknya erat seperti saat ini, sementara itu otaknya tengah berusaha memproses setiap kejadian yang ia alami.
Fokus Leon beralih menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Penampilannya benar-benar terlihat kacau dengan beberapa luka yang terlihat menghiasi tubuhnya.
Leon makin cemas dengan apa yang dilihatnya. "Astaga, kau terluka? Apa yang sebenarnya terjadi? Kau baru saja mengalami kecelakaan, huh?" Leon mengecek tubuh Elvina, memutar tubuhnya mencari luka lain yang tak dilihatnya.
"Tenanglah. Tadi beberapa orang perampok berusaha melukainya dan ia nyaris terjatuh ke jurang di tepi danau sana. Beruntung Elvina sempat menghubungiku dan meminta bantuanku. Aku segera datang begitu tahu dia dalam bahaya," jelas Rei beralasan.
Elvina menoleh ke arah Rei yang entah kenapa bisa dengan cepatnya memberikan alasan yang cukup masuk akal. Setidaknya itu akan lebih mudah dicerna oleh otaknya dibanding Elvina menceritakan yang sesungguhnya pada Leon.
"Astaga… benarkah? Tapi kau baik-baik saja, kan?"
"S… saya baik-baik saja. Ini semua berkat Rei."
"Aneh, aku benar-benar tidak ingat apa-apa mengenai apa yang terjadi."
"Kau tidak ingat mungkin karena kau baru sadar dari pingsan. Aku lihat kau terkapar saat aku tiba di sini. Tadinya aku ingin membantumu, jadi aku pindahkan saja dulu kau ke dalam mobil dan bergegas mencari Elvina yang lebih membutuhkan bantuanku," tutur Rei. Leon terdiam, untuk ceritanya yang satu itu, ia merasa ragu. Karena seingatnya, dirinya tersadar dalam posisi berdiri di depan pintu keluar mobilnya.
Leon tak ingin pikir panjang dan menelan semua ucapan Rei mentah-mentah. Fokusnya lebih tertuju pada Elvina yang terluka cukup parah.
"Kau benar-benar terluka parah. Ayo ke rumah sakit."
...***...