
...***...
Aku akan sangat berhati-hati, balas William. Mendadak tanpa aba-aba, William merasakan lehernya di cekik oleh seseorang dari arah belakang.
Ia terbelalak dibuatnya. William memberontak berulang kali berusaha untuk membebaskan diri.
"Kau tidak akan bisa lolos dariku," bisik Melinda yang lalu menampakkan wujudnya.
William meliriknya dari arah belakang, ia dapat melihat Melinda yang kini menatapnya.
"Le… lepaskan aku!" William terus memberontak tapi Melinda justru mengencangkan cekikannya hingga ia benar-benar tidak bisa bernapas.
"Aku tidak akan melepaskanmu." Melinda tersenyum menyeringai padanya.
William berpikir sejenak sebelum kemudian bergerak cepat menginjak kakinya hingga Melinda menjerit kesakitan, di saat bersamaan William menyikutnya dengan keras.
Melinda melepaskan cekikannya spontan. William bergegas melarikan diri dengan kekuatannya hingga sosoknya hilang dari pandangan Melinda.
"Arghh." Melinda meringis menahan sakit pada bagian perutnya.
Sial, dia berhasil lari. Melinda dengan tergopoh-gopoh berusaha mengejar William. Ia berlari sekuat tenaga mengejarnya, sialnya William yang notabenenya memiliki kemampuan lari secepat kilat, membuatnya kesulitan menangkapnya.
"Arghh!!! Sial, aku gagal lagi." Melinda menggerutu kesal saat akhirnya ia gagal menangkap William.
...*...
Leon terpana melihatnya. Elvina tampak benar-benar sangat cantik apalagi dengan rambutnya yang sengaja digerai.
Astaga… Elvina benar-benar terlihat sangat cantik, batin Leon. Ia menatap Elvina nyaris tanpa berkedip.
"Ayo," tuturnya begitu tiba di hadapan Leon. Pria itu diam tanpa menjawab sama sekali, ia terlalu fokus menatap Elvina sampai-sampai tidak sadar bahwa Elvina berbicara dengannya.
"Pak?" Elvina melambaikan tangannya di hadapan Leon. Pria itu mengerjap, tersadar dari lamunannya.
"Ya? M… maksudku, ayo pergi." Leon melangkah lebih dulu dengan Elvina yang berjalan mengekor dibelakangnya.
Kalau dia bukan bosku, aku malas sekali sebenarnya harus pergi dan menemaninya. Apalagi ini adalah hari liburku, aku seharusnya sedang duduk bersantai di sini sambil menikmati hari sampai sore bersama William dan Rei. Apalagi sudah lama kami tidak menghabiskan waktu bersama, terutama dengan Rei. Setelah dia menghilang, kami bahkan belum sempat menghabiskan waktu bersama di akhir pekan seperti ini. Elvina menggerutu dalam hatinya sambil terus berjalan hingga mereka tiba di depan rumah.
Sudahlah, kalau aku tidak menuruti permintaannya yang ada dia tidak akan pernah memberikan ketenangan dalam hidupku. Lebih baik sekarang aku mengabari William, agar dia tidak cemas begitu pulang. Elvina mengirimkan pesan pada William, memberitahu adiknya kalau dirinya harus pergi karena ada beberapa hal yang harus diurusnya yang berkaitan dengan pekerjaan.
Leon dan Elvina segera mencari taksi kosong untuk mengantarkan mereka pergi ke tempat yang ditujunya.
"Coba saja kalau dulu kau tidak menolak mobil fasilitas yang diberikan papaku, kita tidak perlu berdiri di sini dan menunggu taksi," gumam Leon tanpa menoleh pada Elvina yang sibuk dengan ponselnya.
Elvina menghentikan aktivitasnya, ia mendongak menatap Leon dengan raut wajah kesal. "Maksud bapak? Bapak tidak suka berdiri di sini dan menunggu taksi, begitu?"
"Di sini panas," balas Leon. Elvina membuang muka menanggapi balasannya.
"Maaf, tapi biar saya perjelas. Saya menolak mobil pemberian pak Maxime karena saya merasa tidak enak."
...***...