Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 242 - Kissing



...***...


Mulut Lusia terkatup. Ucapan Rei membuatnya jadi salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sialnya ia malah memandang bibir Rei yang baru berucap.


Rei menggerakkan tangannya tanpa sadar. Meraih tengkuk Lusia dan mendaratkan sebuah c**man di bibirnya.


Lusia tercengang dengan apa yang terjadi. Tubuhnya spontan membatu dengan kedua mata yang kini terbuka sempurna. Jantungnya berdebar hebat seakan nyaris melompat keluar.


Rei menghentikan aksinya. Ia beradu tatap dengan Lusia yang masih terdiam setelah c**man mereka yang terjadi selama beberapa saat.


Wajah gadis itu mulai berubah merah padam. Rei mendadak sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"M… maaf…" lirihnya terbata.


Lusia cepat-cepat menundukkan kepalanya. Ia gugup jika harus beradu pandang dengan Rei, apalagi setelah apa yang terjadi.


Lusia masih berusaha menetralkan debar jantungnya. Begitu juga dengan Rei yang jadi merasa salah tingkah.


Rei mengalikan fokusnya ke arah lain. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Keadaan mendadak terasa canggung. Atmosfer beku seketika menyelimuti kebersamaan mereka.


A… apa itu tadi? K… kami benar-benar c… c**man? batin Lusia.


Rei merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Ia benar-benar melakukan hal itu tanpa ia sadari. Semuanya terjadi begitu saja tanpa ia sadari.


Rei beranjak bangun dari tempat duduknya. Kursi yang berderit membuat Lusia beralih fokus padanya.


"A… aku akan mencari udara segar sekaligus membelikanmu makanan," ucapnya terbata.


Tanpa menunggu jawaban dari Lusia, Rei segera pergi meninggalkan ruang UKS. Meninggalkan Lusia seorang diri disana.


Lusia speechless. Sepeninggalan Rei, dirinya masih tak berkata-kata dengan wajahnya yang memanas. Ia kini benar-benar terlihat seperti kepiting rebus.


Perlahan, tangannya bergerak mengusap bibirnya.


"D… dia benar-benar menc**mku? A… apa maksudnya itu?" lirihnya.


Lusia menghirup oksigen rakus-rakus guna menetralisir panas yang menghampiri wajahnya serta debar jantungnya.



Rei berjalan perlahan. Ia tampak melamun memikirkan apa yang baru saja ia lakukan pada Lusia.


Bel berbunyi sama sekali dihiraukan olehnya. Orang-orang terlihat mulai berhamburan keluar dari dalam kelas masing-masing, dan kini mereka mulai memenuhi koridor yang tengah dilewatinya.


Rei terus melangkah menuju arah kantin untuk membeli makanan. Di perjalanan, Gloria dan Heru yang sejak tadi mencarinya akhirnya bertemu.


"Rei!" teriak keduanya sembari berlari menuju arahnya.


Rei tersadar dari lamunannya begitu ia datang.


"Kau darimana saja? Kami sudah mencarimu sejak tadi. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Heru.


"A… aku tidak dari mana-mana."


"Kenapa wajahmu memerah? Kau demam?" Gloria menatapnya. Gadis itu lantas menempelkan punggung tangannya pada kening Rei. "Kau panas. Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Kau yakin?" Gloria tak yakin. Rei mengangguk pelan.


"Oh, apakah kau melihat Lusia? Dia juga tidak kembali setelah bertengkar denganmu di kafetaria." Heru mengalihkan pembicaraan.


"Benar, kau melihatnya?" Gloria menimpali.


"Lusia? Ya, aku melihatnya. Dia ada di UKS," tutur Rei.


"UKS? Kenapa dia bisa ada di sana? Apa yang terjadi dengannya?" Gloria cemas.


"Dia pingsan. Tapi sudah sadarkan diri, kalian cek saja. Aku akan pergi ke kantin lebih dulu untuk membeli makanan untuknya."


"Astaga, baiklah. Ayo pergi!" Gloria menarik tangan Heru dan berlalu meninggalkan Rei yang kini diam ditempatnya.


Ia menatap kepergian mereka.


...***...