
...***...
Mereka semua terduduk di padang rumput tempat biasa. Mereka berenam duduk dengan hidangan makanan dihadapannya.
Dalam dunia mimpi yang diciptakannya, Rei meminta Louis supaya Elvina dan William bisa mengerti setiap kalimat yang terlontar dari bibir Lucy dan Aland agar dirinya tidak perlu susah-susah menerjemahkan setiap kalimatnya.
"Jadi ini rencana yang kau maksud, Rei?" tanya Elvina.
"Ya. Aku membawa kalian untuk berdiskusi di sini karena hanya di sini, kalian bisa bertemu dengan Louis secara langsung dan kalian bisa berkomunikasi langsung dengannya," jelas Rei.
"Kau berasal dari Prancis? Aku suka namamu." Lucy menoleh ke arah Louis yang duduk di samping Rei.
"Tidak. Aku tidak berasal dari Prancis, tapi Rei yang menciptakanku dan dia juga yang memberikan aku nama itu." Louis menjawab.
"Oh…" Lucy bergumam.
"Baiklah, langsung kau jelaskan saja rencananya." Aland mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Lucy terlalu lama berbicara dengan Louis, terlebih sialnya walaupun Louis ini adalah ilusi, tapi dia tampan.
Bahkan dalam mimpi saja, Aland bisa merasa cemburu.
"Lou, langsung kau jelaskan saja," kata Rei pada Louis.
"Baiklah, akan kujelaskan. Begini rencananya…"
Louis menjelaskan segala rencana yang telah disusunnya pada Elvina dan yang lainnya.
Rei serta yang lain hanya diam dan menyimak setiap penjelasan darinya hingga dia benar-benar selesai berbicara.
"Oh, aku mengerti. Jadi kau meminta aku dan William bekerjasama supaya kita bisa mengaktifkan sinyal lokasi pada alat milik Joe?" Elvina menyimpulkan.
"Ya. Dan selanjutnya, Liana dan Aland akan mengurus sisanya. Mereka akan melacak sinyal dari alat itu. Dengan begitu, kita akan lebih mudah untuk menemukan kalian."
"Ide yang bagus!" Aland setuju.
"Baiklah, aku mengerti. Itu artinya, kita hanya perlu mencari alat itu 'kan?" kata William.
"Alat itu ada di dalam kamar Joe. Bentuknya mirip seperti jam tangan," tutur Louis.
"Baiklah. Akan aku ingat." William bergumam.
"Kami akan bergerak secepat yang kami bisa!" Lucy berusaha menenangkan.
"Kau tenang saja. Ada aku di sini yang akan menjamin mereka datang tepat waktu, lagipula Louis juga akan membantu." Rei menoleh pada Louis. Lelaki albino itu mengangguk membenarkan ucapan tuannya.
...*...
"Huft~" Joe menghela napasnya pelan. Di tangannya, ia menggenggam telecosys miliknya.
Joe mencengkeram erat benda itu.
Kau pasti bisa, Joe! pikirnya menguatkan diri.
Detik berikutnya, ia menghubungi profesor untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Setelah mengotak-atik benda itu sejenak, layar hologram lalu muncul dihadapannya menampakkan wajah profesor.
"Aku harap kau menelponku dengan membawa kabar baik," kata profesor di seberang sana. "Apa yang ingin kau katakan?" katanya.
"Aku ingin mengatakan kalau aku sudah berhasil menangkap Elvina dan William, prof…" lirih Joe.
"Sungguh?" Wajah profesor mendadak berseri.
Joe mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Bagus! Bawa mereka kemari sekarang juga. Aku harus secepatnya melakukan operasi pada mereka." Profesor tampak bersemangat.
Joe terdiam sesaat. Ia menelan saliva-nya susah payah.
"Aku akan membawa Elvina dan William pada anda prof, tapi bisakah anda menepati janji anda?"
"Janji?"
...***...