Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 406 - Pertemuan pertama



...***...


Aland dan Lucy melangkah turun dari taksi yang mereka tumpangi.


"Jadi ini tempatnya?" gumam Aland sambil mendongak menatap bangunan yang bergaya Eropa yang berada di balik gerbang megah yang ada di hadapan mereka.


"Gaya arsitekturnya seperti gaya Eropa," komentar Lucy.


"Ya."


"Kalau begitu, aku akan masuk dan mengecek ke dalam, kau tetap di sini dan awasi situasi."


"Baiklah."


Lucy dan Aland berpisah. Lucy menghampiri bangunan yang ada di hadapannya, sementara Aland menghampiri tempat lain guna mengawasi Lucy.


Lucy sudah mengenakan penyamaran, mengenakan kemeja dan rok pendek dengan sepatu heels.


"Jadi kau bilang, target kita memiliki saudara di sekolah ini?" gumam Lucy pada Ethan di seberang sana sembari terus menatap bangunan yang ada di hadapannya tanpa memperhatikan langkahnya.


"Ya. Dia memang memiliki saudara di sekolah yang kumaksud," sahut Ethan.


"Aku akan coba menanyakan pada beberapa pekerja di sini. Tapi aku tidak yakin apakah mereka akan bisa mengerti dengan ucapanku," gumam Lucy.


"Kau tunjukkan saja fotonya."


"Okay," sahut Lucy sambil terus melangkah. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengecek foto targetnya. Namun langkahnya yang tidak memperhatikan jalan, secara tidak sengaja membuat Lucy menabrak seorang pria yang berdiri di tempat parkir.


Brukk!


Beruntung pria itu tak jatuh di buatnya. Lucy mendongak menatap pria yang mengenakan seragam sekolah di hadapannya.



"Oops, sorry. I really accidentally bumped into you," ujarnya meminta maaf. Rei terdiam menatap wanita berambut pirang dihadapannya.


"No problem. Aku juga yang salah karena tidak terlalu memperhatikan jalan," sahut Rei yang entah kenapa bisa bicara dengan fasih dengan bahasa Inggris. Ia juga bahkan bisa dengan mudah mengerti setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya.


"Kau bisa mengerti ucapanku?" tanya Lucy dengan wajah heran.


"Ya…" sahut Rei disertai anggukan kepala.


"Syukurlah, aku kira kau tidak akan mengerti." Lucy tersenyum lega. "Sekali lagi aku minta maaf."


"Tidak apa-apa," ujar Rei tidak masalah. Baru saja Lucy hendak beranjak pergi, tapi ia mendadak berhenti saat ingat akan tujuannya datang ke sini.


"Oh! Omong-omong, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Tanyakan saja," jawab Rei.


"Begini." Lucy menyalakan ponselnya. "Apakah kau pernah bertemu dengan pria ini? Atau mungkin kau kenal dengan pria ini? Aku dengar kalau pria ini memiliki seorang saudara di sekolah ini. Tapi aku tidak yakin, apakah saudaranya itu bekerja atau sekolah di sini," kata Lucy.


Wanita itu menunjukkan foto targetnya pada Rei.


Rei diam memperhatikan gambar seorang pria paruh baya di ponsel milik Lucy. Ia mengerutkan kening.


"Aku tidak kenal dengannya, dan aku juga belum pernah melihat pria yang kau maksud."


"Sungguh?"


"Mungkin karena memang jarang ada orang tua siswa yang berkunjung, jadi aku tidak pernah melihatnya. Selain itu, sebagai besar siswa di sini pulang dan pergi tanpa di jemput, karena mereka membawa kendaraan masing-masing," jelasnya.


"Begitu ya… baiklah mungkin aku akan bertanya pada orang lain. Sebelumnya terima kasih karena sudah mau membantu."


"Bukan masalah. Aku juga minta maaf karena tidak bisa membantu lebih banyak."


"Ya, tidak apa-apa. Kalau begitu aku permisi."


"Silahkan," tuturnya.


Lucy beranjak dari tempatnya.


...***...