Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 538 - Selebaran



...***...


"Aku baik-baik saja," lirihnya seraya menyingkirkan tangan Melinda dari keningnya.


"Tidak. Kau tidak baik-baik saja. Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa tubuhmu begitu panas? Kau sakit? Bukankah tadi malam kau baik-baik saja?" Mimik wajah Melinda tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Aku hanya berendam di kamar mandi selama berjam-jam."


"Apa? Tapi kenapa kau melakukan itu?"


"Untuk menahan sisi diriku yang lain. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol tubuhku, atau bahkan menghentikan sisiku yang lain untuk muncul."


"Kau sudah minum obatmu?" tanya Melinda.



Andrich terdiam tak menjawab. Melinda beranjak dari tempatnya, mencari kotak berisi serum yang diberikan profesor.


"Obatnya habis?" Melinda melirik padanya saat mendapati isinya kosong. Pria itu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


Melinda beranjak dari tempatnya. Menaruh kembali kotak itu ke tempatnya.


"Aku sudah terlalu sering meminumnya. Tapi tetap saja, efeknya tidak bekerja," gumam Andrich.


Melinda hanya diam tanpa menjawab. Wanita itu, kini sibuk mencari sesuatu di dalam laci di ruang dapurnya.


"Tunggu di sini!" Melinda berlari menuju lantai dua apartemennya. Tak lama, wanita itu kembali dengan sebelah tangannya yang di sembunyikan di belakang punggungnya.


Andrich tak menyadari itu dan terlalu sibuk meneguk minumannya.


Melinda menghampiri Andrich. Tanpa aba-aba, wanita itu langsung memasang borgol khusus pada pergelangan tangannya.


Andrich tersentak. "Apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada pilihan lain. Kita kembali ke markas! Setidaknya, di sana kita bisa memiliki persediaan obat untukmu."


"Apa? Lalu kenapa kau memborgolku?"


"Agar kau tidak melarikan diri lagi dariku."


...*...


Blam!


Aland menutup pintu dengan menggunakan kakinya. Ia melangkah masuk dengan semua barang belanjaan yang di belinya.


Kedua tangannya membawa dua kantong kresek besar berisi makanan yang dia beli.


Fokus semua orang beralih padanya yang baru saja tiba setelah pergi berbelanja selama beberapa jam.


"Kau sudah pulang?" Lucy meliriknya.


"Ya. Dan aku membelikan banyak makanan untuk kalian." Aland menaruh semua makanan yang di belinya ke atas meja.


"Wah, terima kasih." William membuka isinya lebar-lebar dan sibuk mencari makanan yang dia sukai.


"Kenapa kau begitu lama? Apakah kau pergi ke suatu tempat dulu?" tanya Rei yang melihat Aland mendaratkan bokongnya tepat di sebelah Lucy.


"Supermarketnya penuh. Selain itu, ada sesuatu yang menyita perhatianku saat di perjalanan hendak pulang."


"Apa?"


Aland mengeluarkan secarik kertas dari dal celana yang dia kenakan. Ia kemudian menyodorkan benda itu pada Rei yang duduk bersebelahan dengan Elvina dan William.


Kedua sepupunya itu menoleh ke arah kertas yang dilihatnya. Mereka membulatkan mata saat melihat foto mereka ada di kertas itu dengan tulisan orang hilang di bagian atas tertera dengan font berukuran besar.


"Kalian di cari," ujar Aland. Walaupun tidak terlalu mengerti arti tulisannya, tapi dari foto dan wajah wanita yang ditemuinya bisa di simpulkan kalau kertas selebaran yang di dapatnya adalah guna menemukan Rei, Elvina, dan William yang di anggap hilang.


"Ini gawat. Kalau orang tua kita sudah mulai menyebarkan selebaran seperti ini, otomatis mereka sudah meminta bantuan pada para polisi untuk mencari kita," gumam Elvina dengan raut wajah cemas.


"Benar," lirih Rei pelan.


...***...