
...***...
"Dia sudah menukar data pemeriksaannya dengan milikku agar aku gagal menjalani operasi. Dia adalah kakak terbaik, dan satu-satunya keluarga yang aku miliki." Derek tersenyum simpul mengingat kejadian dulu. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.
Dorothy terdiam tanpa kata. Ia hanya memperhatikan wajah tenang Derek yang dipulas senyum di wajahnya.
"Jadi, kau tidak perlu cemas. Aku tidak akan menceritakan soal kau yang ada di sini pada siapapun." Derek kembali beralih tatap padanya sambil tersenyum.
"Terima kasih."
Derek hanya mengangguk pelan menanggapi ucapannya lalu kembali fokus pada makannya.
Hening seketika menyelimuti kebersamaan mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing, bahkan mereka sudah kehabisan topik untuk di bahas.
Dorothy masih seperti menit-menit sebelumnya. Memandangi Derek bahkan nyaris tanpa berkedip.
"Apakah ada yang ingin kau katakan?" tanya Derek yang kerasa kurang nyaman dengan tatapan Dorothy yang begitu intens padanya.
"Bolehkah aku memelukmu?" Dorothy balik bertanya dengan mata berkaca-kaca.
Derek terdiam sejenak. Ia cukup tertegun dengan kalimat yang baru saja terlontar dari wanita tua itu.
Tapi melihatnya seperti ini, membuat Derek tak bisa berkata tidak.
"Ya, tentu." Derek merentangkan tangannya dan memeluk Dorothy.
Dalam pelukannya, Dorothy merasakan kehangatan. Begitu juga dengan Derek yang merasakan hal yang sama.
Pelukan Derek benar-benar terasa dekat untuknya. Terasa familier, dan terasa begitu nyaman.
"Pelukanmu begitu nyaman, kau terasa begitu familier, dan aku merasa seolah kita sudah sangat dekat sejak lama," lirih Dorothy dengan mata terpejam.
Tanpa sadar, air matanya jatuh. Ia kemben teringat akan anak-anaknya.
Setelah beberapa saat. Mereka akhirnya melerai pelukannya dan beradu tatap satu sama lain.
Dorothy menyeka air matanya. Sedang Derek, berusaha menahan air matanya supaya tak lolos dari irisnya yang kini berkaca-kaca.
"Berada dalam pelukanmu… aku merasa seolah-olah ibuku memelukku seerat itu," tutur Derek dengan suara sedikit tertahan menahan tangis.
Dorothy memaksakan tersenyum ke arahnya walaupun hatinya benar-benar terasa sakit. Air matanya tak kunjung berhenti, apalagi setelah Derek berkata demikian.
"Omong-omong, hari semakin larut. Aku harus pergi sebelum para penjaga sadar aku melarikan diri untuk mencari Joe." Derek bangun dari posisi duduknya.
"Aku harap kau tidak dengan nyenyak dan bermimpi indah malam ini. Lupakan apa yang terjadi hari ini, dan tidurlah," sambungnya menambahkan.
"Kau juga," sahut Dorothy.
"Aku pergi." Derek beranjak meninggalkannya sendirian. Selama melangkah, pria itu sesekali menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya dengan senyuman terukir di wajah tampannya.
Dorothy hanya bisa diam terpaku di tempatnya sambil balas tersenyum dan melambai padanya.
Sosoknya terus menjauh hingga menghilang di antara pepohonan hutan yang dilihatnya.
Sekali lagi, Dorothy sendirian.
Kali ini benar-benar sendirian. Hanya deburan ombak yang kini menemani setengah malamnya yang gelap.
Dorothy terdiam di depan api unggun sambil melanjutkan mengisi perutnya dengan makanan yang dia dapat.
Bagaimanapun, dirinya harus mengisi perut supaya tenaganya kembali.
Setelah puas diam sambil memperhatikan deburan ombak, wanita itu lantas beranjak menuju ruang rahasianya.
Dorothy masuk ke dalam gudang persenjataannya yang gelap. Tiba di dalam sana, ia segera membenahi diri sebelum terlelap tidur.
...***...