
...***...
Amanda mengeluarkan laptop super kecilnya. Ukurannya sangat pas digenggam satu tangannya. Ia segera membuka benda itu yang langsung menunjukkan layar dengan wallpaper bergradasi warna hitam dan hijau yang menyala.
Amanda menekan beberapa tombol di keyboard, memasukkan password untuk membukanya. Tak lama, terbuka dan ia segera mengotak-atik benda itu dengan begitu cekatan. Jari-jari kecilnya menekan tombol keyboard dengan begitu lihainya.
"Kalau aku tidak bisa menghubungi senior Lou dan senior Al secara langsung, mungkin aku bisa mengirimkan pada mereka lokasi saat ini, dengan begitu mereka bisa menemukan keberadaanku," gumamnya pelan. Tangannya kembali bergerak mengotak-atik laptopnya.
"Oh ya Tuhan. Ini tidak berfungsi, kenapa bisa sinyalnya tidak berpengaruh sama sekali? Kalau seperti ini, aku akan sangat kesulitan menghubungi mereka." Amanda terdiam sejenak berusaha mencari ide lain.
"Wait. Oh, benar! Senior Eth. Aku bisa menghubungi senior Eth lewat serverku. Dengan begitu, nantinya secara otomatis senior Je dan senior Dan akan menghubungi senior Lou dan senior Al. Ide brilian! Sekarang biar aku coba." Amanda sibuk sendiri. Ia benar-benar tidak sadar dengan Elvina yang sudah berada tepat dibelakangnya.
Elvina berdiri dengan raut wajah bingung menatap Amanda dari belakang. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang tengah dilakukan wanita itu, di tengah malam seperti ini.
"Ya Allah, ini juga tidak bekerja!" Amanda menghela napasnya panjang. Ia mengusap wajahnya kasar. Amanda di ujung frustasi, segala usahanya benar-benar tidak berguna. Pasalnya segala cara yang ia gunakan untuk berhubung dengan dunia luar benar-benar tidak berfungsi sama sekali. Entah apa yang terjadi, Amanda benar-benar tidak mengerti padahal jelas-jelas jaringannya stabil atau bahkan bisa di katakan benar-benar baik. Namun, ia sama sekali tak bisa menghubungi siapa-siapa.
"Amanda?" Elvina menepuk pundak Amanda pelan. Wanita itu spontan terperanjat kaget dibuatnya.
"Astaghfirullah!" Amanda spontan berbalik ke arahnya. Wajah wanita itu benar-benar tampak shock karena dikejutkan Elvina yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. "You surprised me!" ucap Amanda.
"S… sorry," tutur Elvina dengan raut wajah tertegun. Ia sendiri juga cukup kaget dengan reaksi Amanda yang terkejut begitu ia menepuk pundaknya.
"Amanda, what are you doing here?" tanya Elvina begitu Amanda tampak lebih tenang.
"Nothing. I'm just trying to get some fresh air," tuturnya tenang. Tangan Amanda dilihatnya bergerak ke belakang, memasukkan laptop kecil tadi ke dalam tasnya.
(Tidak ada. Aku hanya berusaha untuk mencari udara segar)
"How about you?" Kini, Amanda yang bertanya sambil memandang Elvina lekat.
"I'm trying to find you, because you're not in the room."
"Sorry, if it wakes you up. Sekarang bagaimana kalau kita kembali ke kamar?" Amanda merangkul pundak Elvina, memutar tubuh gadis itu, dan menggiringnya kembali menuju kamar mereka untuk beristirahat.
(Maaf, jika itu membuatmu bangun)
Sepanjang jalan Elvina hanya diam dan memperhatikan Amanda dari jarak yang begitu dekat. Ia menatapnya penuh rasa curiga. Berbagai pertanyaan bermunculan mengenai apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh wanita berkebangsaan Inggris itu.
Apa yang sebenarnya berusaha dia sembunyikan? Sepertinya ada yang tidak beres.
...***...