
...***...
"Semoga saja dia tidak memintaku untuk melakukan hal yang tidak-tidak," gumam Elvina pelan sembari terus melangkah menyusuri koridor yang sudah mulai tampak sepi. Sepertinya semua orang sedang menikmati waktu makan siang mereka di kafetaria kantor. Sungguh beruntung, tidak seperti dirinya yang harus terjebak dalam posisi kurang beruntung karena Leon juga mengganggu waktu istirahat makan siangnya.
Elvina menghentikan langkah kakinya di depan ruang kerja Leon, ia menghela napasnya sejenak. Berusaha mengaturnya agar tetap stabil dan tidak terpancing emosi setiap kali berbicara dengan Leon.
Aku harus tenang. Jangan sampai aku terpancing emosi apapun yang nantinya akan dia perintahkan untukku, batin Elvina.
"Baiklah, ayo masuk." Elvina baru saja hendak meraih kenop di pintu, tapi tiba-tiba pintu itu terbuka menampakkan Leon yang kemudian berdiri dihadapannya.
"P… pak." Elvina terkejut dengan kemunculannya.
Leon menghela napas pelan, ia menatap Elvina datar. "Bapak mau kemana? Bukannya bapak panggil saya kemari?" tanya Elvina.
"Kau itu begitu lambat, aku sampai lelah menunggumu."
"Maaf soal itu. Tapi ini jam istirahat makan siang, kenapa bapak meminta saya untuk datang menemui bapak?"
"Tadinya aku ingin memintamu untuk melakukan sesuatu. Tapi karena aku lapar, jadi aku mau makan siang dulu." Leon melangkah keluar.
Menyebalkan! Aku sudah susah-susah datang kemari bahkan sampai membatalkan rencana makan siangku dengan Linda. Tapi begitu aku tiba di sini, dengan seenaknya dia ingin pergi begitu saja? Oh, yang benar saja! Rasanya aku ingin memukulnya sekeras mungkin, pekik Elvina dalam batinnya. Ia mengepalkan tangannya erat.
"Huft~" Elvina menghela napasnya kuat-kuat berusaha menahan emosinya. Ia mengusap pelan dadanya, meredakan emosi yang memuncak begitu saja.
Aku harus tenang, walaupun aku kesal, tapi aku harus tenang. Setidaknya lihat sisi positifnya Elvina, dengan si tukang perintah ini pergi makan siang. Bukankah itu artinya aku bisa pergi menyusul Linda yang makan bersama dengannya? Oh, ide yang bagus, inner-nya.
"Baik, kalau begitu selamat menikmati waktu makan siangnya pak. Saya permisi." Elvina melangkah melewati Leon. Mendadak Leon menarik tangannya, membuat langkahnya seketika terhenti.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?" tanyanya retoris.
"Kau ikut denganku," tukasnya.
"M… maksud bapak?" Elvina menaikkan sebelah alisnya, bingung.
"Kau temani aku makan siang. Aku tidak ingin makan sendiri." Leon menarik tangan Elvina dan membawanya pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Elvina.
"T… tapi, pak… saya memiliki janji untuk makan bersama Linda." Elvina terseret dibelakangnya. Ia berusaha untuk menghentikan langkahnya, tapi Leon sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk berhenti.
"Batalkan saja, pokoknya hari ini kau makan bersamaku."
"T… tapi, pak…"
"Aku tidak menerima penolakan!" tukas Leon. Ia menarik tangan Elvina menuju lift dan membawanya turun ke lantai dasar.
Tiba di lantai dasar, Leon segera menuntun Elvina menuju tempat parkir. Mereka menghampiri mobil miliknya. Leon berdiri di depan pintu dan membukakannya untuk Elvina.
Astaga, orang ini benar-benar memaksa. Padahal sudah jelas-jelas aku tidak tahan bersamamu! pekik Elvina dalam hatinya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Kita tidak memiliki banyak waktu, jam makan siang kita sangat terbatas jadi cepat masuk." Leon mempersilahkan.
Elvina menghela napas pelan, baru saja ia hendak protes. Tapi Leon lebih dulu menarik tangannya.
...***...