
...***...
Linda tiba-tiba berhenti berbicara saat sadar Elvina tak menanggapi setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya.
"Kau ini kenapa diam saja?" Linda menyikut lengan sahabatnya itu membuatnya sontak tersadar dari lamunannya.
"Huh?"
"Sejak tadi kau tidak mendengarkanku berbincang. Ada apa denganmu? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Linda dengan raut wajah penasaran.
Elvina menghentikan langkah kakinya sejenak, membuat Linda juga ikut berhenti.
Wanita itu menghela napas pelan membuat Linda makin yakin kalau ada yang sedang mengganggu pikiran Elvina.
"Apakah ucapanku benar? Ada yang mengganggu pikiranmu? Kalau memang benar, coba kau cerita padaku. Mungkin saja dengan begitu kau akan merasa lebih lega."
Elvina masih mengatupkan mulutnya. Kepalanya yang semula tertunduk perlahan mendongak, beradu tatap dengan Linda.
Apakah aku harus berbicara padanya? pikir Elvina tampak menimbang-nimbang.
"Hey! Kenapa kau malah melamun?" Linda mengguncang pundak Elvina, berusaha membuatnya sadar.
"Ayo bicara di tempat lain." Elvina menarik tangan Linda setelah memutuskan akan menceritakan semuanya pada wanita itu.
Linda berjalan dengan sedikit terseret di belakang Elvina. Wanita yang sangat suka dengan warna merah muda itu, membawanya pergi menuju taman kantor.
Tiba di sana, Elvina duduk di bangku taman yang ada. Linda mengambil duduk tepat di sampingnya.
Ia masih menatap Elvina dengan raut wajah penasaran.
Elvina terdiam sesaat. Ia bingung harus menjelaskan masalahnya mulai dari mana. Berulang kali ia membuka mulutnya hendak melontarkan kata, tapi tiba-tiba tertahan begitu saja di tenggorokannya dan berakhir bingung.
"Ayolah katakan sesuatu jangan diam saja. Sebentar lagi sudah waktunya masuk," ujar Linda yang mulai kesal karena Elvina terus diam saja.
"Oke, aku mendengarkan." Linda menggeser tubuhnya jadi berhadapan dengan Elvina.
"Hm… ini tentang si tukang perintah," tuturnya.
Linda menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu pak wakil direktur? Leon?" ujarnya, memperjelas.
"Memangnya siapa lagi yang aku sebut dengan sebutan seperti itu?"
"Ada apa dengannya? Apa yang sudah dia lakukan sampai membuatmu melamun seperti itu? Apakah dia menyakitimu? Atau dia menyentuhmu? Katakan saja, biar aku marahi dia!"
"Tidak, bukan."
"Kalau bukan, lalu kenapa?" Linda masih tidak mengerti.
"Begini, apakah kau tidak sadar bahwa sikapnya akhir-akhir ini begitu aneh?"
"Aneh bagaimana? Aku rasa sama saja, tidak ada yang aneh dengannya."
"Itu karena kau tidak tahu saja. Selama hampir seminggu ini sikapnya berubah baik padaku, dia tidak pernah menyuruhku melakukan hal-hal yang di luar tugasku lagi, setelah itu dia selalu datang mengunjungi ruang kerjaku, dan beberapa kali dia mengajakku makan serta pulang bersama." Elvina menjelaskan segala kejadian yang luput dari pengawasan Linda.
Memang selama seminggu terakhir, pekerjaan Linda lebih banyak sehingga membuat mereka terkadang sulit bertemu satu sama lain, bahkan saat makan siang.
"Bukankah itu biasa? Kalian kan memiliki 'hubungan.'" Linda cekikikan sambil menekan kata terakhirnya.
Elvina melotot dengan mulut menganga terbuka sempurna mendengar ucapan Linda.
"Astaga, aku sudah jelaskan padamu kalau apa yang terjadi waktu itu diluar dugaanku. Aku dan dia benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku, 'kan sudah jelaskan semuanya padamu," jelas Elvina.
"Itu bagimu. Tapi, bagi dia? Kita tidak pernah tahu, 'kan?" ucap Linda.
...***...