Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 452 - Hubungi adikmu



...***...


Prang!


Pigura berisi gambar keluarganya secara tidak sengaja tersenggol hingga bagian kacanya pecah.


Indri tersentak kaget.


"Astaga, kacanya sampai pecah," gumamnya pelan. Ia yang sedang beres-beres itu lalu beralih fokus.


Indri berjongkok untuk membereskan pecahan beling yang berserakan di lantai rumahnya.


"Seharusnya aku lebih berhati-hati."


Indri beranjak dari tempatnya. Mengambil sapu untuk membersihkan pecahan beling agar tidak terinjak.


"Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak? Apakah jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Elvina dan William?" Indri memonolog. Ia memegangi dadanya.


Entah mengapa, ada perasaan tidak enak yang menyeruak masuk tanpa permisi.


Indri segera membereskan semua pecahan beling itu dan membuangnya ke tempat pembuangan.


Setelah selesai, ia segera mencari ponselnya untuk menghubungi putri sulungnya dan memastikan keadaannya baik-baik saja.


Indri mengirimkan pesan pada Elvina dan William. Namun tidak ada jawaban membuatnya semakin resah.


Indri segera menghubungi Elvina lewat panggilan suara.



...*...


Suara ponselnya yang berdering membuat fokus Elvina beralih.


Ia meraih ponselnya dan mendapati nomor Indri tertera di sana.


"Siapa?" tanya Leon yang kini duduk dihadapannya.


"Ini dari mama."


"Oh, begitu."


"Biar aku angkat dulu."


"Baiklah."


Elvina menggeser tombol hijau di sama yamg dalam sekejap menyambungkan panggilan telpon mereka.


"Halo, ma…"


"Elvina. Syukurlah ka menjawab." Suara resah Indri terdengar jelas di seberang sana.


"Mama apa kabar?"


"Kabarku juga baik. Will juga baik, tapi Elvina tidak bersamanya. Mama tahu sendiri 'kan, kalau jam segini dia masih di sekolah. Tapi, kenapa mama terdengar resah? Apakah ada sesuatu?"


Indri terdengar menghela napas di seberang sana. Elvina masih menunggu jawaban dari wanita yang menjadi ibunya itu.


"Coba kau hubungi adikmu itu. Perasaan mama tidak enak. Mama takut terjadi sesuatu dengannya."


"Will, baik-baik saja. Aku yakin. Mama tidak perlu cemas."


"Coba kau hubungi dulu! Mama benar-benar merasa tidak enak. Mama tadi tidak sengaja menyenggol foto kalian hingga pecah, dan tiba-tiba perasaan mama jadi tidak enak. Mama jadi ingat perkataan nenekmu," lirihnya.


"Mama tenang dulu. Elvina akan coba hubungi Will agar mama bisa tenang. Nanti Elvina beritahu kalau aku berhasil menelpon Will."


"Okay, terima kasih."


"Iya, ma."


"Kalau begitu biar mama tutup telponnya. Kau langsung hubungi Will, ya."


"Iya. Mama sehat terus ya. Jangan terlalu banyak bekerja, dan jaga kesehatan terus."


"Iya."


Elvina menutup sambungan telponnya sepihak.


"Ada apa?" tanya Leon yang penasaran.


"Mama menelpon untuk memastikan keadaanku dan Will."


"Oh, aku kira kenapa. Omong-omong kapan kau akan mengajakku bertemu dengan orang tuamu?"


Elvina tersenyum simpul.


"Kita cari waktu yang pas dulu.


"Okay." Leon setuju. Ia kembali fokus pada makanannya.


Elvina kembali fokus pada ponselnya untuk menghubungi William seperti permintaan Indri. Tapi belum sempat ia menekan simbol gagang telpon pada nomor William, atensi Elvina lebih dulu tersita oleh suara Rei yang berbicara lewat telepatinya.


Elvina…


Rei? Elvina menghentikan langkahnya yang hendak menekan tombol telpon di sana. Ujung jempolnya sudah berada tepat di atas layar telponnya, tapi belum sempat ia tekan.


Will… dia dalam bahaya!


Apa maksudmu?


Joe! Dia sedang melawan Joe seorang diri di sekolahnya.


Apa?! Elvina terbelalak.


...***...