
...***...
William menghela napasnya pelan. Akhirnya setelah beristirahat cukup lama, ia merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Untung saja Rei cepat-cepat datang, jadi aku tidak berhasil mereka bawa," gumamnya pelan.
Saat ini William sedang berada di ruang UKS untuk memulihkan diri. Ia duduk di salah satu ranjang yang ada di sana. Duduk sambil bersandar pada bantal yang ia sengaja posisikan berdiri untuk sandaran.
Blam!
William tersentak kaget saat ia mendengar suara pintu yang terbuka lalu di tutup dengan sangat kencang hingga menciptakan bunyi nyaring yang menginterupsi seisi ruang UKS.
Siapa yang datang ke ruang UKS begitu kasar. Apakah tidak tahu kalau di sini ada banyak orang yang sedang mencoba beristirahat? pikir William. Ia bergerak menuju arah tepi ranjang. Baru saja ia hendak melangkah turun dari ranjang untuk mengecek, secara tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang bertengkar.
William menghentikan aksinya dan berhenti di posisinya. Ia mengintip melalui tirai yang menutupi biliknya.
Plakk!
Satu tamparan mendarat mulus di wajah lelaki yang ada dihadapan gadis yang kini berdiri di depan pintu. Gadis itu tampak sedang menangis setelah tangannya di serat-serat dengan kasar oleh lelaki yang baru saja tiba dan menariknya keluar.
William terkejut bukan main dengan apa yang dilihatnya. Matanya sampai melotot saat membayangkan bagaimana rasanya tamparan gadis itu.
"Kau berani menamparku?" Lelaki itu berucap dengan suara yang tampak kesal.
"Aku bukan boneka yang bisa kau atur-atur. Kau selalu saja menuntut banyak hal dariku dan selalu memaksaku melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan!" Gadis itu lirih.
"Aku bukan barang transaksi yang bisa seenaknya di pergunakan untuk membayar semua utang-utang keluargaku. Kalau bukan karena ibuku yang sakit-sakitan, kau pikir aku mau berpura-pura menerima semua ini dan berpacaran dengan bajingan sepertimu?"
"Apa kau bilang?"
"Apakah kurang jelas? Aku bilang, kau adalah seorang bajingan!" Gadis itu menekan kalimatnya.
"Berani kau menyebutku begitu!" Tangan lelaki itu terangkat di udara. William yang melihat lelaki itu hendak menamparnya, cepat-cepat ia bergerak dan menahan tangannya.
William mencengkram erat pergelangan lelaki itu sebelum mendaratkan tamparan di pipinya.
Gadis itu menutupi wajahnya tampak berusaha menghindar dari tamparannya.
"Dasar pengecut," gumam William.
Kedua mata gadis itu terbuka dan mendapati William yang kini menahan tangan lelaki dihadapannya.
Lelaki itu menatap penuh kesal ke arah William yang mendadak muncul dan ikut campur dalam urusannya.
"Kau sebut dirimu seorang lelaki? Kenapa kau berani bermain tangan dengan seorang perempuan?" William menarik sebelah sudut bibirnya. Tersenyum mengejek. William menghempas tangan lelaki itu.
"Siapa kau berani ikut campur dalam urusanku?" Ia tampak tidak senang dengan William.
"Sebenarnya aku tidak berniat untuk ikut campur dalam urusan kalian. Tapi kau yang tiba-tiba datang dan membuat kekacauan di sini, benar-benar sudah mengusikku. Ini ruang UKS, dan ada orang yang berusaha untuk beristirahat di sini. Tapi karena kau bertengkar, aku jadi sama sekali tidak bisa beristirahat. Maka dari itu, aku turun tangan. Apalagi, kau berusaha melukainya."
...***...