
...***...
"Kemana Jessy pergi?" tanya Derek dalam bahasa Inggris pada lelaki yang baru saja mereka temui.
"Jessy kemarin pergi untuk menghadiri sebuah seminar di universitasnya dulu, seminarnya di gelar di London, dan mungkin… dia akan pulang beberapa Minggu lagi. Kalian datang terlambat," jelasnya.
"Benarkah?" Derek menghela napas frustasi. Pricilla menatap Derek.
"Sekarang bagaimana? Dia pergi ke London, dan apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu. Tapi jangan cemas, secepatnya aku akan berusaha mencari jalan keluarnya."
"Omong-omong kalian siapa? Maksudku, hubungan kalian dan Jessy itu apa? Apakah kalian saudaranya? Atau temannya? Aku baru melihat kalian mengunjungi Jessy," tutur lelaki itu dalam bahasa Inggris. Fokus Derek dan Pricilla kembali padanya.
"Aku Derek dan ini Pricilla. Kami adalah sahabatnya Nils, pacarnya Jessy. Dan kami datang kemari untuk menemui Jessy karena ada hal yang harus kami sampaikan padanya. Kami jarang bertemu dengan Jessy karena kami tinggal di luar negeri."
"Oh, begitu rupanya. Sayang sekali, kalian datang terlambat karena Jessy sudah pergi kemarin."
"Ya, sangat di sayangkan karena kami sudah datang jauh-jauh." Derek menunjukkan wajah murung.
"Ini sudah malam, apakah kalian sudah menemukan tempat untuk bermalam?"
"Tidak, belum."
"Ng… bagaimana kalau kalian tinggal di rumahku untuk malam ini? Kebetulan rumahku tepat berada di sebelah. Kalian bisa beristirahat dan melepas penat."
"Bolehkah?" Air muka Derek dan Pricilla berubah berbinar.
"Ya, tentu. Kebetulan aku tinggal sendiri, dan ada beberapa kamar kosong di rumahku yang bisa kalian tempati."
"Terima kasih banyak." Derek tersenyum simpul.
"Bukan masalah, kalau begitu ayo pergi. Sebentar lagi sudah waktunya makan malam, kalian sudah makan?"
"Belum."
"Wah, sudah lama aku tidak menikmati hidangan itu. Sepertinya akan sangat enak." Derek tersenyum senang.
"Kau pernah mencobanya?"
"Ya, dan rasanya benar-benar enak," balasnya.
"Kj… kj, apa?" Pricilla kesulitan menyebutnya.
"Kjøttkaker," sahut Derek sambil menoleh padanya.
"Apa itu?"
"Makanan khas Norwegia, rasanya benar-benar enak. Terbuat dari daging yang di campur dengan beberapa sayuran. Kau lihat saja nanti."
...*...
Kjøttkaker, adalah makanan khas Norwegia yang sangat mudah untuk di temukan di seluruh penjuru Norwegia dan umumnya di masak banyak keluarga.
Untuk membuatnya sendiri cukup sederhana, karena berbahan dasar daging sapi yang dicincang dan di bumbui dengan beberapa bumbu seperti garam, merica, dan bawang. Setelah itu di bentuk bulat sebesar kepalan tangan anak-anak lalu di goreng.
Kjøttkaker nyaris seperti perpaduan antara bakso yang di bentuk seperti perkenel di Indonesia. Hanya saja, bedanya kjøttkaker di makan serta di sajikan dengan rebusan saus khusus, serta beberapa pelengkap lain seperti kacang polong, kubis, maupun wortel.
"Ini dia." Buzz, menaruh tiga kjøttkaker ke atas meja. Derek menatap makanan itu berbinar, ia nampak ngiler melihat makanan lezat dihadapannya. Sementara Pricilla mengerutkan kening saat melihat makanan itu benar-benar terlihat seperti perkedel yang dibaluri dengan saus dan di tambahkan beberapa topping.
"Ini adalah makanan yang kau maksud?" Pricilla menoleh pada Derek.
"Ya, ini sangat enak. Cobalah."
"Kau yakin ini adalah daging? Seperti perkedel." Pricilla meraih garpu dan pisaunya kemudian menggulir kjøttkaker dipiringnya. Bersikap urakan.
...***...