
...***...
Dean jatuh terduduk. Menangis sambil memandangi Derek yang baru disadarinya ternyata adalah kakeknya yang hidup di masa lalu sekaligus orang yang sudah memberikannya kekuatan dan memberikannya alasan untuk berada di tempat ini.
Nero, Vicenzo, Taz, dan Marko segera menghampiri Dean dan berusaha menguatkan sahabatnya itu. Kenyataan terlalu pahit untuk Dean karena harus melihat kakeknya untuk pertama dan terakhir kalinya dengan kondisi seperti ini. Dean sebelumnya tidak pernah mengingat sosok kakeknya semenjak Derek di masa depan memberikan kekuatan untuknya. Bahkan Dean tidak pernah ingat kalau dia memiliki kekuatan. Dia baru sadar dan baru tahu setelah bertemu dengan Rei dan teman-temannya.
...*...
"Tidak tunggu! Aku mohon jangan bunuh aku Lucy!"
"Memohonlah sepuasnya karena aku tidak akan pernah mendengarkan permohonanmu. Lagipula bukankah itu juga yang kalian lakukan padaku saat aku memohon pada kalian untuk berhenti setelah kalian membunuh kedua orangtuaku? Tapi apa yang kalian lakukan? Kalian malah tidak mendengarkanku sama sekali, dan kalian malah membunuh sahabatku... Jadi sekarang memohonlah sepuasnya. Karena sebanyak apapun kau memohon, aku tidak akan pernah mendengarkanmu."
Tubuh Martin mulai bergetar hebat. Ia mulai dihampiri ketakutan begitu sadar kematian berada tepat di depan matanya. Lucy bersiap untuk mengakhiri segalanya. Tapi menyadari hal itu, Martin terdiam dan memandanginya dengan tubuh gemetar.
"Dengar Lucy! Walaupun kau membunuhku. Itu bukan akhir dari segalanya. Karena tanpa sadar, apa yang kau lakukan akan menjadi awal dari penderitaanmu berikutnya. Karena mereka tidak akan pernah tinggal diam kalau mereka tahu aku sudah mati."
"Aku tidak akan pernah takut. Karena aku sudah tahu apa yang akan aku hadapi selanjutnya."
"Kau akan menyesal Lucy... Kau akan menyesal!"
"KAU YANG AKAN MENYESAL KARENA SUDAH MEMBUATKU KEHILANGAN SEMUA ORANG YANG AKU SAYANGI!"
DORRR!!
Dia bergerak menjauh, melepaskan Martin yang telah tewas. Kedua mata Lucy berkaca-kaca, dan dia mulai terisak. Ia kembali teringat akan kejadian tentang kematian kedua orang tua dan sahabatnya Elena. Semua ingatan itu kembali menghampirinya, membuat Lucy hanya bisa terisak meratapi kepergian mereka.
...*...
Amanda terkulai lemas dan hampir jatuh. Beruntung Aland langsung menangkapnya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku hanya lelah..."
"Lebih kau duduk."
"Dimana senior Lou? Apakah dia baik-baik saja? Aku mencemaskannya..."
"Aku juga cemas dengan kondisinya... Kita tidak bisa melihatnya sejak tadi." Aland mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak lama pandangannya tertuju pada satu titik dimana dia menangkap sosok Lucy yang berjalan gontai menuju arah mereka. "Lou..."
Amanda yang mendengar Aland menyebut Lucy lantas menoleh ke arah yang dilihatnya dan mendapati sosok wanita itu di sana.
"Senior Lou!" Amanda bangkit dan berlari dengan tertatih menuju arahnya dengan diikuti Aland dari arah belakang. Mereka berlari menuju arah Lucy sebelum akhirnya mereka bertiga bertemu di tengah. Begitu bertemu dengan kedua rekannya, Lucy langsung memeluk mereka erat sambil menangis kencang.
Amanda dan Aland balas memeluk wanita itu, berusaha menenangkannya. Dari apa yang terlihat, Amanda dan Aland bisa melihat kalau Lucy telah berhasil menuntaskan misinya yang tertunda selama setahun. Mengalahkan Cato, Miles dan Martin dengan tangannya.
...***...