
...***...
Air bergerak ke atas, memancurkan seluruh bagian dalamnya. Elvina dan William yang melihat itu spontan bergerak menjauh.
William menarik tangan Elvina hingga pergi ke tempat yang jauh agar pakaian mereka tetap kering.
Tak lama, air membasahi seluruh permukaan tanah yang semula kering. Air perlahan-lahan mulai mengusut, dan Elvina serta William dapat melihat Rei yang terbaring di sana dengan Joe yang tampak berusaha mengatur napasnya.
Tubuh Joe terlilit oleh tanaman yang cukup untuk mencekik lehernya.
"Rei!" Elvina dan William berlari spontan menuju arah lelaki yang menjadi sepupunya itu.
Keduanya terduduk di sampingnya. Rei terbaring tak sadarkan diri dengan tubuh basah sementara Louis yang kini berada di dekatnya tak dapat mereka lihat.
Lakukan sesuatu! Aku mohon! Louis berucap pada Elvina. Namun suaranya tidak dapat mereka dengar.
"Rei! Rei, bangun!" Elvina menepuk-nepuk wajahnya pelan. Tetapi tidak ada respon sama sekali.
"El! Lakukan sesuatu untuk menolongnya!" William panik bukan kepalang.
Elvina tanpa perlu di dikte, langsung bergerak mengecek denyut nadinya lewat bagian pergelangan tangannya.
"Dia masih hidup." Elvina berusaha untuk tenang. Ia bergegas melipat kedua tangan Rei di depan dadanya, ia mulai bergerak memompa tubuhnya guna mengeluarkan seluruh air yang masuk ke dalam mulutnya.
"Bertahanlah!" Elvina dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca terus memompa dadanya.
Ia berhenti sejenak, mengecek kembali denyut nadi pada pergelangan tangannya.
Masih lemah. Ia kembali bergerak memompa dadanya, terus bergerak sekuat tenaganya.
Untuk kedua kalinya ia mengecek detak jantungnya. Elvina menempelkan telinganya pada dada Rei.
"Uhuk… uhuk…" Air berhamburan keluar dari mulutnya. Elvina menghentikan aksinya, ia menatap Rei dengan tatapan lega.
Rei perlahan membuka kedua matanya. Awalnya mengabur sampai Elvina memanggilnya lirih.
"Rei…" Senyuman yang terbit di wajah sepupunya itu kini terlihat jelas.
Rei dapat melihat wajah Elvina dan William yang kini menampakkan raut wajah cemas.
"Syukurlah, aku berhasil…" Elvina tersenyum simpul. Tidak sia-sia selama ini dirinya mempelajari ilmu kedokteran dari berbagai sumber, mulai dari drama, buku, sampai artikel yang beredar di internet, serta kejadian langsung yang terjadi di rumah sakit.
"El… Will…" Rei berucap lirih. Kedua sepupunya tampak lega melihatnya tersadar.
Tuan… Louis memanggilnya. Rei beralih menatap ke sisi lain dan mendapati lelaki albino itu yang tengah duduk menangisinya. Rei hanya tersenyum simpul.
Kau datang di saat yang tepat. Terima kasih, ujarnya berbicara lewat pikirannya dengan Louis.
Aku tidak akan memberikan tuan terluka. Louis memaksakan senyum.
Rei bangun dengan bangunan Elvina. Ia terduduk berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Di sisi lain. Joe hanya diam memperhatikan tiganya yang kini berada jauh dari jangkauannya.
Energiku benar-benar habis karena kejadian ini. Joe berusaha melepaskan tanaman yang masih melilit bagian lehernya.
Ia bangun tergopoh-gopoh, tubuhnya kehabisan energi karena terlilit oleh tanaman yang membuatnya benar-benar tak bisa bernapas dan bergerak.
Selain itu, pertarungannya dengan Elvina juga menguras seluruh energinya.
"L… lagi-lagi aku gagal menangkap mereka. Aku sangat ingin kembali menyerang mereka dan terus berjuang menangkap mereka. Tapi kondisiku benar-benar tidak memungkinkan. Aku harus kembali ke markas dan memilihkan energi."
...***...