Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 239 - Menghapus ingatan



...***...


"Ayo ke rumah sakit."


"S… sepertinya tidak perlu. Saya baik-baik saja, sungguh," tolak Elvina cepat.


"Tidak apa-apa bagaimana? Kau terluka separah ini! Pokoknya kita pergi ke rumah sakit!" tukas Leon keukeuh.


"T… tapi…"


Lebih baik kau pergi dan ikut saja ke rumah sakit, agar Leon tak merasa curiga denganmu, ujar Rei. Berbicara dengan Elvina lewat telepatinya.


Tapi Rei…


Kalau tidak seperti ini, dia akan makin curiga. Jadi pergilah. Rei menyakinkan Elvina. Wanita itu terdiam sejenak sebelum kemudian mengangguk membenarkan ucapan Rei.


Sepertinya kau memang benar. Baiklah, aku akan pergi. Elvina baru hendak menyetujui ajakan Leon pergi ke rumah sakit, lelaki itu sudah lebih dulu bergerak meraih tubuhnya tanpa permisi.


"Akh…" Elvina tersentak kaget saat Leon membopongnya.


"Kau terlalu banyak berpikir." Leon beradu tatap dengannya.


Elvina diam tak bersua, degup jantungnya mendadak kembali berpacu dengan begitu cepat, apalagi saat kedua mata mereka saling bertemu dalam jarak sedekat ini.


Jantung Elvina tak bisa tenang melihat ketampanan Leon.


Leon menghampiri mobilnya dan mendudukkan Elvina di kursi samping kemudi.


"Maaf, tapi bisakah kau pergi dan membawa Elvina tanpa aku? Aku harus pergi sekarang juga, ada yang harus aku urus," kata Rei para Leon begitu pria itu telah mendudukkan Elvina di mobilnya.


"Kau tidak perlu cemas, aku akan membawa sepupumu itu ke rumah sakit dan memastikannya mendapatkan pengobatan yang terbaik untuk semua luka di tubuhnya." Leon menepuk pundak Rei sambil tersenyum.


"Terima kasih, aku percayakan dia padamu."


"Ya."


"Kalau begitu aku pamit." Rei beralih menatap Elvina.


Elvina hanya mengangguk tanpa bersuara. Sejurus kemudian Rei berbalik dan melangkah meninggalkan mereka berdua.



...*...


Louis menoleh ke arah Lusia yang masih terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri.


Ia baru saja melihat Rei yang sudah hampir menyelesaikan masalahnya, dan ia tahu kalau tuannya akan segera tiba di sana.


Louis menghampiri Lusia, ia bergerak dan berdiri tepat di tepi ranjang dekat kepalanya terbaring di atas bantal.


Kalau kau mengingat apa yang terjadi padamu sebelum kau pingsan tadi, maka itu akan menjadi masalah untuk tuan. Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu tahu tentang apa yang telah terjadi. Louis mengangkat tangan kanannya, ia lantas menyapu udara di dekat kening Lusia.


Bersamaan dengan gerakan tangannya itu, ingatan Lusia mengenai apa yang sempat ia alami sebelum pingsan itu hilang dalam seketika.


Louis telah menghapus ingatannya.


...*...


William akhirnya membuka mata setelah Rei berulang kali menepuk-nepuk pipinya dengan sedikit keras.


"Rei…" Ia berucap lirih.


"Syukurlah kau sudah sadar." Rei tersenyum melihat sepupunya itu akhirnya sadar dari pingsannya.


"Dimana aku?" William mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dirinya berada di dalam gedung olahraga yang terletak tepat di dekat dimana ia bertarung dengan para evolver yang berusaha menangkap dirinya.


"Kita masih berada di sekolah. Sekarang kau berada di ruang olahraga, aku tidak memiliki pilihan lain selain membawamu masuk kemari."


William bangun secara perlahan. "Kau pasti telah membantuku, kan? Terima kasih karena kau selalu datang di saat yang tepat."


"Bukan masalah, itu memang tugasku sebagai sepupumu. Bagaimana keadaanmu?" ucap Rei.


...***...