Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 736 - Ikutilah perintahku



...***...


"Liana, hei!" Rei memegangi pipinya, menatap kedua iris mata Lucy. Tapi hal itu sama sekali tak berhasil membuatnya tersadar. Rei yang semakin panik spontan memeluknya, berharap dengan begitu dia bisa menjadi lebih tenang. Namun apa yang Rei lakukan justru malah membuatnya bisa melihat masa lalu Lucy. Rei bisa melihat kejadian yang terjadi setahun silam.


Dalam apa yang dilihatnya, dia menyaksikan Lucy bersama Aland yang berada di depan sebuah gedung. Menggedor-gedor pintu sebelum akhirnya Aland menarik tubuh Lucy dan sebuah ledakan terjadi. Dalam apa yang lihatnya, Rei lihat Lucy berteriak menyerukan Elena sambil menangis histeris.


Rei membuka matanya. Apa yang dilihatnya membuat Rei langsung bisa mengerti perasaan Lucy dan apa yang menyebabkan wanita itu bersikap begini.


Dia memiliki trauma. Kalau seperti ini, aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus melindungi Lucy dari semua yang memancing traumanya. Rei segera menggunakan kekuatannya. Membuat sebuah perisai dari air untuk menghalangi kobaran api dan suara ledakan yang masih tersisa di sana. Dengan kedua tangannya dia juga menutupi kedua telinga Lucy dan mencoba membuatnya tenang dengan memintanya memejamkan mata dan menarik napasnya.


Semoga ini berhasil...



...*...


Tep!


Kedua kakinya berdiri di tengah puing-puing bangunan yang hancur karena kekuatan dahsyatnya. Lusia membuka kedua matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap setiap puing-puing yang ada di sana. Tak lama gadis itu menggerakkan kedua tangannya. Menggunakan kekuatan miliknya untuk menarik segala benda berbahan metal ke arahnya. Bersamaan dengan itu, tubuhnya melayang dan dia kembali memejamkan matanya. Dia mengubah semua benda berbahan metal itu, mencairkannya dengan kekuatan dan menjadikannya sebagai bahan pakaian yang membentuk tubuhnya.


Di sisi lain, Martin yang berhasil menyelamatkan diri. Bersusah payah untuk kembali ke tempat dimana Lusia berada. Lelaki itu berdiri di belakang Lusia dan berjalan menghampirinya dengan tertatih. Kedatangannya itu berhasil menyita perhatian Lusia, membuat wanita itu berbalik dan langsung menyerangnya.


Pergerakannya begitu cepat. Lusia mendadak berada di depan Martin dengan posisi sebelah tangannya mencekik leher pria itu hingga tubuhnya melayang di udara. Martin bahkan sampai kesulitan untuk bernapas. "Siapa kau? Dan kenapa kau berjalan mengendap-endap, apakah kau berusaha untuk menyakitiku?"


"A-aku tidak memiliki niat untuk menyakitimu..." Martin bersuara dengan tertahan. Ia berusaha keras untuk mencoba menenangkan Lusia agar dia bisa diturunkan. "Aku adalah tuanmu... Aku yang sudah menciptakan dan membangunkan kekuatan dalam dirimu."


"Tuan?" Lusia terdiam, menatapnya penuh selidik. Martin menggerakkan tangannya, mencoba meraih wajah Lusia. Ia kemudian menempelkan jarinya di pelipis gadis itu yang dalam sekejap membuatnya bisa melihat segala kejadian di masa lalu. Kejadian awal bagaimana dirinya bisa tercipta.


Setelah melihat semua itu, Lusia segera melepaskan cekikannya. Menurunkan tubuh Martin dan langsung membungkuk dihadapannya. "Sekarang aku percaya... Maafkan aku karena sudah mencoba untuk melukai tuan..."


"Panggil aku profesor." Martin membenahi penampilannya. Ia juga berusaha melonggarkan kancing kemeja atasnya agar tidak terasa sesak.


"Baik, prof..."


"Bagus, sekarang berdirilah." Martin tersenyum simpul memandangi Lusia. Wanita itu lantas beranjak bangun sesuai perintah darinya. Martin menatap lekat sosoknya sebelum berkata, "Sekarang ikutilah setiap perintahku..."


...***...