
...***...
"Apa yang kau tunggu, ayo naik!" Luna berteriak padanya saat melihat wanita itu hanya diam dan memperhatikan kehancuran dari teman-temannya yang lain dan menghiraukan uluran tangan dari Hera.
Dorothy menoleh pada Luna yang baru saja berucap.
"Luna, aku tahu kondisimu lemah sekarang. Tapi, aku yakin kau bisa melindungi teman-temanmu yang lain," tutur Dorothy.
"Apa yang kau bicarakan? Jangan bicara seolah kau tidak akan ikut dengan kami!"
"Aku tidak ikut. Aku akan menghadang mereka di sini, dan memastikan kalian pergi dengan aman. Lagipula aku tidak bisa pergi begitu saja dan meninggalkan hal terpenting dalam hidupku."
"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Cepat naik dan jangan membuatku marah!" Luna mulai berkaca-kaca. Suaranya mulai bergetar, ia tidak bisa membayangkan harus berpisah dengan Dorothy yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri.
"Kevin. Jaga mereka dengan baik, aku yakin kau adalah orang yang tepat untuk memimpin pelayaran ini." Dorothy beralih fokus pada pria yang sejak tadi diam dengan mata berkaca-kaca menahan emosinya yang meluap-luap seperti yang lainnya.
Ini memang berat. Apalagi ketika Dorothy berkata tidak akan ikut bersama mereka pergi dari pulau.
"Hera, ingatanmu yang paling bagus. Ingat ini, kau harus menggerakkan kapal ini mengitari pulau ini sebanyak tiga kali, dan kalian akan menemukan jalan pulang!"
"Tapi, Dorothy…" Hera tak bisa mengikuti ucapannya.
"Fero, jalankan kapalnya!" titah Dorothy.
"Tapi…" Fero terdiam dengan bingung.
"Cepat, tidak ada waktu untuk berpikir!" tukas Dorothy yang menyadari para penjaga kembali bergerak dan semakin mendekat ke arahnya.
Fero dengan berat hati, akhirnya mengikuti ucapannya dan mulai menggerakkan kapal itu tanpa memperdulikan Luna yang mulai mengamuk. Berteriak-teriak sambil memintanya untuk tidak mengikuti ucapan Dorothy.
Dorothy beranjak dari tempatnya. Ia segera berlari menuju arah pintu ke ruang rahasianya.
Ia menarik sebuah rantai yang tertutupi dedaunan. Dengan tarikan yang kencang, pintu rahasia menuju gudang persenjataannya mulai terbuka dan menampakkan ruang gelap.
Ia melangkah masuk ke dalam sana dan segera meraih pistol yang selama ini disimpannya untuk keadaan darurat seperti ini.
Dorothy segera keluar dengan membawa sebuah pistol besar berisi cairan yang sama yang tadi ditembakkannya pada penjaga yang berusaha menyerangnya.
Dorothy menembak satu persatu penjaga yang tersisa.
Dorr! Dorr! Dorr!
Jarum suntik yang menjadi pelurunya itu mulai melesat keluar. Beberapa diantaranya langsung lumpuh saat suntikan itu menancap pada tubuh mereka, lalu fenomena yang semula mereka lihat kembali terjadi.
Joe yang melihat hal itu, segera berlari mencari bala bantuan yang dipanggilnya. Tugas yang lebih utama baginya daripada mengatasi Dorothy adalah menangkap Elvina, William, dan pria yang baru saja melarikan diri.
Dorothy terus bergerak. Kali ini, giliran dirinya yang membuat para penjaga berlarian dengan rasa takut yang menyelimuti mereka karena takut terkena tembakan dari pistol berisi cairan mematikan yang diciptakan Dorothy.
Dorothy berlarian hingga ke dalam hutan dan menembak semuanya.
Ia menghentikan langkahnya begitu melihat semua penjaga telah hilang dan jauh dari pandangannya.
Dengan napas terengah-engah, Dorothy berdiri dengan sisa tenaganya.
Aku harap, dengan ini kalian semua bisa pulang ke tempat kalian dengan selamat.
...***...