Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 580 - Menara barat, setahun lalu



...***...


"Arghh!" Rei menjambak rambutnya kuat-kuat. Rasa sakit yang dirasakannya semakin menjadi. Lelaki itu bahkan sampai terjatuh dari ranjang tempatnya terduduk.


"Rei!" Lucy dan Aland segera berlari menghampiri lelaki itu. Berusaha memastikan dia baik-baik saja.


"Rei, kau baik-baik saja? Kau kenapa?" tanya Lucy dengan raut wajah cemas.


"Arghh!!" Bukannya menjawab, Rei malah semakin keras menjerit menahan sakit. Lelaki itu benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan kepalanya. Tapi rasanya benar-benar sakit, bahkan semua hal yang dilihatnya berubah buram.


"Rei! Katakan sesuatu! Kau kenapa?" Aland sama cemasnya dengan Lucy.


"Arghh…" Rei menjerit lagi. Ia memejamkan matanya dengan tangan yang terus menjambak rambutnya sendiri. Perlahan Rei bisa melihat semuanya.


Ada sesuatu yang muncul di otaknya, berputar dengan si cepat. Potongan demi potongan muncul, dan setiap kali dia melihat setiap adegan yang ada, kepalanya jadi kian terasa sakit.


A-apa yang terjadi? Kenapa kepalaku sakit sekali? Rei membatin.


"Rei!" Lucy dan Aland menatapnya dengan wajah cemas. Ia berusaha membuat Rei fokus pada mereka berdua.


"Buka matamu! Lihat kami!" kata Lucy dengan nada cemas.


Rei membuka kedua matanya perlahan. Tatapannya kabur, tapi kemudian semuanya terlihat menjadi jelas untuk sesaat, lalu kabur lagi. Terus seperti itu secara berulang hingga membuat Rei semakin merintih kesakitan.


Louis yang mendengar tuannya kesakitan lalu beralih atensi. Pria itu menoleh ke arahnya dan hendak mendekat.


Pandangan mata mereka sempat beradu untuk beberapa saat.


Brakkk!


Tiba-tiba saja pintu masuk di dorong dengan begitu cepat, dan perhatian Louis beralih pada sosok yang baru saja datang.


Di sana, dia melihat seorang lelaki tua berdiri dengan napas tersengal.


Entah kenapa kepalanya semakin sakit saat melihat lelaki itu berdiri di sana, terlebih ada perasaan tidak asing yang mendadak muncul menghampiri dirinya.


"Arghh!!!" Rei memejamkan kedua matanya sambil menjerit sekencang-kencangnya.



...*...


Menara barat, satu tahun yang lalu.


2019


Rei membuka kedua matanya perlahan. Pandangannya kabur, membuatnya harus mengerjapkan mata beberapa kali agar pandangannya jelas.


Hal pertama yang dilihatnya ketika semuanya tampak jelas adalah langit-langit berdominasi warna putih.


Di dekat kepalanya, sebuah benda besar dengan beberapa bola lampu yang menyatu berada. Bentuknya mirip seperti lampu yang hidup biasa digunakan dokter dalam melakukan operasi. Hanya saja bedanya lampu yang ada di dekat Rei memiliki ukuran yang lebih besar dengan bentuk yang agak aneh. Terlebih, benda itu melayang tanpa tongkat penyangga.


Kepalanya terasa sakit, dan bersamaan dengan itu, tangannya merasakan kebas dan nyeri yang luar biasa. Rei meringis. Tangannya baru saja hendak memegang kepalanya, namun ia baru menyadari sesuatu yang tidak beres.


Rei menoleh ke sisi kiri dan kanannya seraya menggerakkan kedua tangannya. Ia terkejut bukan main ketika sadar kedua tangannya terikat begitu kencang hingga membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


Sejurus berikutnya, Rei baru sadar bahwa dirinya terbaring dalam keadaan bertelanjang dada. Kedua tangan, kaki, serta tubuhnya terikat dengan begitu kencang.


Rei kembali berusaha memberontak, berharap bisa membebaskan diri dari tempatnya berada.


Dimana aku? Kenapa aku di ikat seperti ini? Apa yang terjadi? Rei membatin.


...***...