
...***...
"Lalu yang di sana. Bintang yang berada di antara bintang-bintang lain, mungkin ukurannya kecil, tapi cahayanya lebih terang dari bintang di sekelilingnya. Itu adalah bintang yang di pilih William." Elvina menunjuk ke sebelah Barat dimana bintang itu berada. Leon mengalihkan pandangannya.
"William adalah orang yang mudah akrab dan suka berbaur dengan orang-orang. Selain itu, kepribadiannya yang hangat dan ramah sama seperti mentari ketika condong ke arah Barat untuk berganti peran dengan bulan. Selain itu keindahannya, membuat siapapun nyaman untuk senantiasa bersamanya."
"Lalu yang mana bintang yang kau pilih?" tanya Leon.
"Di sana!" Elvina menunjuk ke arah Timur.
"Bintang yang bersinar di sekeliling bintang lain yang terletak cukup jauh darinya. Bintang itu adalah bintang yang aku pilih."
"Kenapa kau memilihnya?"
"Karena Rei dan William bilang, kalau aku itu seperti matahari di pagi hari yang naik dari timur. Selalu penuh semangat, dan senantiasa hadir ketika semua orang membutuhkan. Sama seperti cahaya bintang itu yang bersinar terang agar bintang-bintang lain yang lebih redup darinya tersinari oleh cahayanya."
Leon tersenyum simpul. "Itu memang cocok untukmu, kau memang seperti itu."
"Huh?" Elvina menoleh ke arah Leon yang kini beralih menatapnya. Lelaki itu tersenyum simpul padanya.
Elvina terdiam dengan mulut tertutup rapat. Jantungnya semakin berdegup ketika senyuman Leon benar-benar tampak mempesona dihadapannya.
Suara yang berasal dari langit, membuat fokus keduanya beralih. Elvina dan Leon menatap ke arah datangnya suara.
Di sana, mereka melihat kembang api yang bermunculan menghiasi langit malam yang indah.
"Woah… benar-benar indah." Elvina semakin merekahkan senyum. Matanya berbinar menatap percikan indah yang tercipta dari kembang api.
"Haha… dia benar-benar tidak bisa menunggu kode dariku." Leon bergumam pelan seraya terkekeh.
Elvina menoleh. "Maksudmu?"
‘I wish you to be mine.’ Kalimat itu tertulis di langit malam. Elvina melongok menatapnya, ia tidak menyangka kalau ternyata Leon benar-benar sudah merancang semuanya sedemikian rupa.
Leon mengalihkan atensinya. Tangannya bergerak menggenggam tangan Elvina.
"Aku melakukan semua ini untuk membuktikan kalau aku memang benar-benar serius denganmu. Aku ingin kau menjadi kekasihku," lirih Leon yang dapat di dengar dengan jelas oleh Elvina.
Wanita itu tak menoleh dan terus menatap ke arah kembang api di sana.
"Aku tahu, usia kita terpaut enam tahun. Aku juga tahu, mungkin aku terlalu dewasa untuk menjadi kekasihmu karena perbedaan umur kita. Tapi… aku benar-benar berharap kalau kau mau…"
"Aku mau." Potong Elvina cepat. Leon terdiam tak melanjutkan kalimatnya. Air mukanya berubah terkejut.
"Huh?"
"Aku mau menjadi kekasihmu…" Elvina beradu tatap dengannya, berusaha membuat Leon yakin dengan kalimatnya.
"S… sungguh?" Leon terbata. Elvina hanya mengangguk sebagai jawaban.
Leon tak bisa membendung rasa bahagianya. Ia spontan memeluk Elvina erat.
Dari ekspresi wajahnya, Elvina dapat melihat kalau Leon benar-benar senang dengan jawaban yang ia berikan.
Elvina bergerak, membalas pelukan Leon. "Sebenarnya… aku juga mencintaimu," bisik Elvina pelan tepat di telinganya.
Mereka melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Leon bangun dari posisi duduknya.
...***...