
...***...
"Rekanku menangkap sinyal bahaya. Orang yang kita temui di bandara datang ke sini! Kau harus bantu aku untuk membangunkan Rei dan yang lain!" tuturnya.
"Huh?" Elvina tidak mengerti sama sekali dengan apa yang wanita pirang itu katakan. Tapi melihat ekspresi seriusnya, Elvina bisa menyimpulkan bahwa apa yang dia katakan barusan sangatlah penting.
Elvina beranjak turun dari ranjang dan mengikuti Lucy keluar kamar begitu dia melihat wanita itu berlalu.
Lucy menghampiri pintu kamar di sebelah dan berusaha membangunkan Rei serta yang lainnya.
...*...
Wyman menghentikan langkahnya di depan rumah di mana targetnya—Lucy berada.
Kedua matanya tertuju pada bangunan yang ada tepat dihadapannya. Sebelah bibirnya lantas terangkat membentuk sebuah smirk.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian lolos, pikirnya sambil mengepalkan tangan.
Wyman melangkah menghampiri rumah itu dan berusaha mencari pintu yang aman agar dia bisa masuk tanpa di sadari.
Wyman menghampiri jendela, menggunakan kemampuannya untuk menyemburkan kabut tidur ke dalam sana.
Perlahan, kabut itu bergerak mengisi seluruh ruangan yang ada di dalam sana. Setelah seluruhnya tampak tertutup kabut, Wyman segera mendobrak pintu dan melangkah masuk.
...*...
Nils membuka kedua matanya begitu sadar ada yang tidak beres. Pria itu memiliki kepekaan yang terlalu sensitif yang membuatnya bisa dengan mudah mengetahui apa yang di anggapnya tidak beres.
Ia bangkit dari tempat duduknya. Begitu melihat ke sekitar, Nils di buat kaget oleh kabut tidur yang masuk lewat setiap celah yang ada di dalam ruangannya.
Apa ini? Nils segera turun dari ranjangnya.
Kabut tidur. Nils menggelengkan kepalanya kuat-kuat begitu secara tidak sengaja menghirup sedikit kabut yang di lihatnya.
Kepalanya mendadak terasa berat dan rasa kantuk mulai menyerangnya.
Sial! Sepertinya ada penyusup yang masuk ke dalam rumahku.
Nils menutupi wajahnya dengan lengan baju tidurnya. Ia segera bergerak menghampiri lemari guna mencari sapu tangannya yang kemudian dia basahi dengan air dari kamar mandinya.
...*...
"Tuan!" Louis mengguncang tubuh Rei hingga membuat pria itu terbangun. Rei membuka kedua matanya, menatap Louis yang kini memandanginya.
"Lou, ada apa?"
"Kita harus segera keluar dari sini. Aku merasakan kalau pria yang kita temui di bandara itu kembali."
"Apa?" Rei bangun dari tempatnya.
Tok! Tok! Tok!
Elvina dan Lucy mengetuk pintu dengan cukup keras, membuat perhatian Rei dan Louis beralih ke arah datangnya suara.
"Rei?!" panggil mereka bersamaan.
Rei melangkah turun dari ranjang, menghampiri pintu dan membukanya. Di sana, dia dapat melihat Elvina dan Lucy yang tampak tergesa-gesa.
"Elvina, Liana?"
"Cepat bangunkan yang lain. Kita baru secepatnya pergi dari sini!" Lucy mencengkram pundak Rei.
Rei menoleh ke arah Elvina yang kini Berusaha membangunkan adiknya.
Rei mengangguk lalu segera membantu mereka membangun William dan Aland.
Wushh…
Atensi mereka semua seketika beralih ke arah pintu masuk dimana secara perlahan asap mulai menyebar dari arah lantai bawah dan bergerak menuju kamar mereka.
Rei, Lucy, dan Elvina membulatkan kedua mata mereka begitu sadar dengan apa yang mereka lihat.
"Cepat bangunkan mereka!" kata Rei yang kemudian berlari menuju arah pintu dan menutupnya cepat.
Elvina dan Lucy membangunkan keduanya hingga mereka tersadar dari tidurnya.
"Ada apa?"
...***...