
...***...
Bughh!
Satu hantaman lagi mendarat di perutnya. Rei terbatuk dengan darah yang semakin banyak keluar dari mulutnya. Lelaki itu sampai hanya bisa diam saking sakitnya.
"Pegangi dia lebih kuat lagi, jangan sampai dia lepas!" ujar pria dihadapannya.
Bughh!
Pria itu mendaratkan pukulan lain ke arah wajahnya sampai membuat darah kembali mengucur dari hidungnya.
Sudah cukup lama kedua lelaki itu bergantian memukul Rei hingga tubuhnya tak berdaya. Rei mulai kehabisan energi, dan pandangannya mulai kabur. Bahkan kedua kakinya tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya.
"Lihat? Sudah aku bilang dia tidak akan tenang sebelum kita bermain-main dengannya." Lelaki yang memegangi tubuh Rei itu tersenyum. Pria dalam genggamannya itu tak bisa berbuat apa-apa lagi, bahkan dia tidak bisa memberontak seperti sebelumnya.
"Sepertinya sudah cukup, aku lelah." Lelaki yang tadi meninju Rei itu mengelap darah pada tangannya yang dia gunakan menghajar Rei.
"Waktunya ke bagian inti."
Lelaki itu mendekat ke arah Rei, menjambak rambutnya kuat-kuat. Ia tersenyum memandangi Rei.
"Ready to serve your punishment, boy?" Kedua lelaki itu menyeret tubuh Rei kembali ke tepi kolam. Ia kembali di dorong ke posisi semula. Berlutut di depan kolam air itu.
Kedua tangannya di pegangi oleh kedua lelaki tadi, sementara salah satunya masih menjambak rambut Rei.
Rei tak bisa melawan sama sekali. Tubuhnya terasa sakit, dan energinya terkuras habis. Rai bahkan masih berusaha untuk mempertahankan kesadarannya.
Di saat Rei berusaha untuk tetap sadar, lelaki tadi tiba-tiba saja mendorong kepalanya masuk ke dalam air hingga Rei tersentak. Ia mendorongnya semakin dalam hingga membuat Rei tidak bisa bernapas.
Rei berusaha memberontak dengan sisa tenaganya. Tapi itu sama sekali tak membuatnya lolos. Lelaki tadi kemudian mengangkat kepalanya setelah beberapa saat ketika Rei nyaris merasa bahwa dia baru saja akan menghadapi kematian.
Belum sempat napasnya kembali stabil, lelaki itu tak menunggu lama. Ia kembali mendorong kepala Rei ke dalam kolam. Kali ini lebih dalam lagi sampai hampir sebagian tubuhnya masuk ke dalam air.
Rei kembali memberontak, ia berusaha untuk melawan. Napasnya semakin lama semakin terasa menipis dan Rei semakin kehilangan kesadarannya sedikit demi sedikit sampai akhirnya dia terkulai lemas dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Menyadari hal itu, bukannya berhenti lelaki tadi malah terus mendorong tubuhnya ke dalam air.
"Tunggu! Ada yang tidak beres!" Salah satu lelaki yang memeganginya itu menahannya.
"Apa?"
"Dia tidak bergerak!"
"Huh?" Lelaki tadi spontan terkejut. Ia hendak mengangkat kepala Rei guna memastikan keadaannya.
Pats!
Rei membuka kedua matanya spontan, dan memberontak sekuat tenaga ketika lelaki tadi hendak mengangkat kepalanya.
Aksi Rei itu membuat keduanya terkejut dan spontan terhempas ke arah tembok.
Rei bangkit dari posisinya. Entah kenapa ia merasakan tubuhnya seolah kembali bertenaga, bahkan Rei merasa tenaganya lebih banyak dari sebelumnya.
Rei berbalik menghadap kedua lelaki itu dan menatap mereka tajam. Kedua lelaki itu terdiam di posisinya. Mereka menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Rei.
"M-matanya…" Salah satu lelaki itu bergumam dengan wajah terkejut.
Penjaga lainnya juga baru menyadari bahwa iris mata Rei mendadak berubah warna.
Mereka membelalakkan mata.
...***...