
...***...
Brukk!
Tubuh besar Garmond terhempas di lantai. Lucy menghampirinya. Menarik tangannya dan memelintirnya ke belakang.
Garmond mengerang kesakitan, ia memberontak berusaha membebaskan diri. Sialnya gagal. Lucy sudah lebih dulu mengunci pergerakannya dengan borgol yang langsung mengunci tangannya.
"Sekarang akan aku pastikan kau mendekam selamanya di balik jeruji besi!" Lucy menarik tubuh Garmond agar bangun.
Garmond memberontak. Ia menatap Lucy dengan tatapan tajam.
"Percuma saja kau memenjarakan aku, karena suatu saat aku akan melarikan lagi dari penjaga dan terus berusaha membunuhmu hingga dendam Beatrix terbalaskan!" Garmond berucap penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Dengar! Beatrix memang pantas mendapatkan itu semua. Dia pantas mati. Karena apa yang dia lakukan benar-benar tidak bisa aku maafkan. Dia sudah menghancurkan pernikahanku, merenggut kedua orang tuaku, dan yang terpenting, dia sudah membunuh sahabatku!" Lucy menatapnya tajam.
Garmond tertawa kencang hingga membuat Lucy diam dengan tertegun.
"Dia pantas mati! Elena memang pantas mati! Dia adalah beban dalam tim kalian yang selalu menghambat misi kal…"
Bugh!
Lucy melayangkan tinju ke arah wajahnya hingga membuat Garmond tersungkur dengan keadaan hidungnya berdarah. Ia meringis menahan sakit.
Kedua mata wanita itu berkaca-kaca menahan tangis. Tangannya bergetar hebat dengan posisi terkepal erat berusaha menahan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun kepalanya.
"Sekali lagi kau berkata seperti itu. Akan aku pastikan kau menyusul Beatrix ke neraka!"
Garmond terkekeh menanggapi ucapannya. Ia melirik Lucy lewat ujung matanya.
"Kalau begitu lakukan saja," ujarnya menantang.
"Akan aku kabulkan permintaanmu." Lucy bangkit dengan tangan terangkat, menodongkan moncong thorny bites nya ke arah kepala lelaki itu.
"Tapi selalu ingat ini, Lucy! Kalaupun kau sudah berhasil membunuhku, bukan berarti ini semua selesai. Justru, ini baru permulaan. Suatu saat, kau akan kehilangan salah satu anggotamu lagi. Dan kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Walau nanti kau bertemu lagi dengannya, tapi kau tidak akan mengenalinya sama sekali." Garmond mengangkat sebelah sudut bibirnya membentuk smirk.
"Diam!" Lucy spontan menekan tombol yang ada pada thorny bites miliknya hingga membuat peluru melesat keluar dan menembak tepat ke arah kepalanya.
Lucy berdiri tegap, kedua manik mata birunya menatap Garmond yang tidak bernyawa.
"Aku tidak akan membiarkan satupun anggotaku menjadi korban lagi!" Lucy berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.
...*...
London, Inggris, saat ini.
2020
Aland melambaikan tangannya berulang kali di depan wajah Lucy saat wanita itu malah diam seribu bahasa dan sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
"Lucy!" Aland memanggilnya lagi hingga membuat Lucy spontan tersadar dari lamunannya.
"Huh? Ya?" Lucy tersentak.
"Kenapa kau malah melamun? Aku tanya apa yang dikatakan Garmond terakhir kali?" Aland mengulangi pertanyaannya.
"Bukan sesuatu yang penting." Lucy menghela napas pelan. Ia meraih shotglass nya lalu meneguk minuman terakhirnya.
Tukk!
Lucy menaruh shotglass dalam genggamannya ke atas meja. "Sudahlah. Aku ingin pulang, ini sudah malam dan aku sudah benar-benar lelah. Kau juga sebaiknya kembali ke dormitory, jangan minum terlalu banyak."
Aland diam sejenak, ia sedikit kecewa karena Lucy enggan berterus terang akan kejadian setahun lalu itu.
"Biar aku antarkan kau pulang." Aland bangun dari duduknya.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
...***...