
...***...
"Tapi bukankah lokasi terakhir yang kau tanggap masih berasal di sekitar Jakarta?" tanya Lucy yang tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba berpindah ke Tarakan, Kalimantan.
"Beberapa jam terakhir, lokasinya masih di Jakarta. Tapi lokasinya terus bergerak hingga akhirnya berhenti di Tarakan."
"Itu artinya, kita semua harus pergi ke Tarakan." Lucy menatap satu persatu orang yang kini berada di dekatnya.
"Tidak mungkin kita pergi ke Tarakan. Pertama, kami tidak memiliki persiapan. Uangku, kartu identitas, dan lain sebagainya ada di rumah," kata Elvina.
"Benar. Selain itu, kita juga sedang dalam pencarian, ingat?" William menunjukkan kertas yang ada di atas meja berisi foto dirinya, Rei dan Elvina yang di ambil oleh Aland beberapa waktu lalu.
Rei hanya diam membenarkan ucapan dari Elvina dan William.
"Kita masih tetap bisa pergi." Lucy berucap.
"Bagaimana caranya?" tanya Rei.
"Untuk biayanya, biar aku dan Aland yang atur. Tiket pesawat dan identitas palsu untuk kalian. Jadi, kita bisa pergi ke sana dengan menyamar."
"Menyamar?"
"Bagaimana kalau penyamaran kita terbongkar?" Elvina bertanya.
"Tidak akan, kalau kita melakukannya dengan sempurna." Lucy tersenyum penuh arti.
...*...
Blam!
Melinda menutup pintu rumahnya rapat. Ia berjalan menghampiri sofa dengan Andrich yang senantiasa berada di sampingnya. Pria itu menggendong tas backpack besar berisi pakaiannya dan Melinda.
Mereka menghampiri sofa dan duduk bersebelahan satu sama lain.
"Hari yang melelahkan," gumam Melinda pelan. Setelah menghabiskan waktu cukup lama di pesawat dan perjalanan menuju rumah kontrakan yang telah di sewanya, akhirnya dia bisa beristirahat.
Andrich menaruh tasnya lalu beranjak bangun. Hal itu membuat Melinda meringis karena tangan mereka yang masih terborgol.
"Aku ingin ke kamar mandi."
"Apa?" Melinda ternganga.
"Aku sudah tidak tahan!" Andrich menarik tangannya hingga membuat gadis itu bangkit dari sofanya.
"Hey, tunggu. Maksudmu aku juga harus ikut masuk ke dalam kamar mandi, bersamamu?"
"Lalu apa yang kau inginkan? Aku sudah tidak tahan. Sejak tadi aku ingin buang air kecil."
"Biar aku lepas dulu borgolnya." Melinda mulai panik, ia sibuk merogoh seluruh saku celananya.
Sial! Aku lupa menaruhnya di dalam tas, pekiknya dalam hati saat ingat dimana dirinya menaruh kunci borgolnya.
Melinda terus berjalan terseret di belakang Andrich hingga akhirnya mereka tiba di kamar mandi.
"Tunggu, tunggu!" Melinda menahannya.
"Apa lagi? Aku sungguh tidak tahan!" Andrich mulai kesal.
"Biar aku lepas dulu borgolnya."
"Tidak ada waktu. Kau ingin aku buang air di celana? Lagipula kenapa memangnya kalau kau ikut masuk? Kau juga sudah sering melihat punyaku 'kan? Ayo!" Tanpa mendengarkan protes Melinda, Andrich segera menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelesaikan hajatnya.
Melinda terpaku. Ia memalingkan wajahnya berusaha menahan diri dan menjadi wanita normal pada umumnya.
Walaupun sudah sering melihat dan merasakan benda itu, tapi tetap saja ini bukan saat yang tepat untuk menontonnya.
Andrich menurunkan resletingnya dan mulai menyelesaikan apa yang sejak tadi ingin ia tuntasnya.
Begitu selesai, sistem di otaknya kembali melepaskan sistem di batas normal. Meningkatkan sistem dopamine di otaknya, merangsang hasratnya hingga membuat pikiran jernihnya mulai berubah keruh, terutama ketika lelaki itu menyadari tangan Melinda terikat dengan tangannya yang lain.
"Akh…"
...***...