
...***...
Suara ini…
Louis membelalakkan mata. Ia menoleh ke arah kiri dan melihat seorang wanita tengah berjongkok dengan seorang anak laki-laki kecil bersembunyi di dalam sebuah kotak kecil.
Anak itu tampak masih sangat kecil. Usianya sekitar tiga atau empat tahun.
"Apapun yang terjadi, jangan keluar sebelum keadaan aman. Okay?" ujar wanita itu memberikan instruksi.
"Iya." Anak laki-laki yang dilihatnya itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kau memang anak yang pintar. Mama akan segera kembali begitu semuanya selesai." Wanita itu mengusap puncak kepalanya lalu beranjak dari tempatnya, meninggal anak itu seorang diri di dalam kotak yang setengah tertutup.
Louis merasakan jantungnya berdebar. Firasatnya semakin mengatakan bahwa ini semua bukanlah tempat biasa dan adegan yang dilihatnya bukanlah hanya sekedar sebuah tragedi yang terjadi begitu saja.
Louis masih terdiam memperhatikan sosok itu.
Sementara itu, anak laki-laki di dalam kotak yang Louis lihat mulai mengintip lewat celah pada kotak tersebut.
Anak itu melihat wanita yang menjadi ibunya itu bergerak. Berbalik dan berjalan menjauh darinya.
"Mama…" lirihnya dengan raut wajah murung. Melihat wanita itu pergi, membuat hatinya tak rela harus berada di sana sendirian.
Anak laki-laki itu melangkah keluar dari dalam kotak. "Mama… jangan tinggalkan aku sendiri," teriaknya sambil melangkah.
Suara anak itu masih terdengar seperti anak yang baru lancar bicara.
Deg!
Louis bisa melihat wajah anak itu dengan jelas. Ia membatu untuk sesaat begitu melihatnya keluar dari dalam kotak dan berlari dengan kaki mungilnya.
Anak itu mulai menangis sambil terus berusaha mengejar wanita tadi.
Louis yang melihat itu tidak tinggal diam. Ia segera bangkit dan berlari menuju arahnya.
Tuan! Louis berusaha menerjang badai. Ia berusaha mendekat ke arah anak laki-laki yang dilihatnya.
Sudah aku duga memang ada yang tidak beres dengan tempat ini. Ternyata ini memang bukan tempat biasa.
Gurun yang aku lihat sekarang adalah tempat dimana semua kenangan buruk tuan terjadi.
Keadaan dimana…, dia merasa seolah semuanya bergerak begitu cepat dan meninggalkan dia seorang diri di masa lalu dengan berbagai kenangan yang tanpa sadar berusaha melukainya.
Louis terus berlari. Lelaki itu tanpa sadar menangis sambil berusaha mengejar anak kecil yang tak lain adalah Rei yang dilihatnya.
Louis bisa melihatnya. Begitu dirinya sadar, anak laki-laki yang tadinya berusia tiga tahun sekarang mendadak berubah menjadi seorang anak berusia entah lima atau enam tahun.
"Rei!" Anak itu menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara seseorang memanggil namanya.
Rei berhenti dan menoleh ke arah datangnya suara. Dari arah datangnya suara itu, dia melihat orang-orang yang disayanginya dalam bentuk anak-anak sama seperti dirinya.
Rei melihat Elvina, William, Marcell, dan Miranda yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Elvina!" Rei menghampiri mereka sambil menyeka air mata yang membasahi pipi mulusnya. "Aku senang kalian di sini," lirihnya pelan.
"Ayo bermain kejar-kejaran. Kau yang jaga, ya! Ayo lari semuanya!" ucap Marcell yang kemudian berlarian menjauh dari Rei. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Teman-teman, tunggu…" Rei berusaha untuk mengejar.
...***...