Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 49 - Profesor



...***...


Elvina terdiam. Sepeninggalan Evolab107 yang pergi untuk melakukan tugas lain, dirinya jadi hanya diam sendiri tanpa bisa melakukan apa-apa.


Elvina berada di dalam ruangannya. Ia tidak dalam keadaan terikat seperti sebelum-sebelumnya. Ia menundukkan kepalanya.


Sudah empat hari aku pergi. Bagaimana kabar mama dan adik-adikku? Mereka pasti sangat mencemaskan aku dan Will yang juga tiba-tiba hilang tanpa alasan. Lalu, bagaimana dengan Rei? Apakah dia sudah ketemu? Apa sudah pulang? Bagaimana keadaannya? Aku merindukan rumah, batin Elvina.


Perhatiannya mendadak tersita oleh kedatangan pria tua berjas putih yang sama.


Elvina mendongak menatap pria tua itu. Ia berjalan menghampiri Elvina seraya menampakkan senyuman di wajah keriputnya.


"Kau sudah menjadi anak baik akhir-akhir ini. Sebagai hadiahnya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ujarnya. Elvina mendongak menatap laki-laki itu tak bersahabat.


"Ikut aku." Si pria tua berbalik. Elvina beranjak dari tempatnya dan berjalan mengikutinya dari arah belakang.



Mereka melangkah menyusuri koridor. Elvina sempat melewati ruangan William. Ia melongok ke dalam ruangan itu dan melihat William yang ternyata sudah sadar dan tengah melakukan beberapa pengecekan tanda vitalnya.


"Will…" gumam Elvina pelan. Ia menghentikan langkahnya spontan. Matanya berkaca-kaca melihat William yang baik-baik saja di dalam sana. Senyuman terbit menghiasi wajah Elvina.


"Lihat? Sudah aku bilang, dia baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu kau cemaskan mengenai dirinya," kata pria itu.


Elvina melirik padanya, menatapnya lekat dengan amarah yang berusaha dipendamnya. Untuk saat ini yang harus ia utamakan hanya keselamatan dirinya dan William serta memikirkan cara untuk melarikan diri.


"Ayo kita lanjutkan." Pria tua itu berbalik. Elvina mengikutinya dari arah belakang. Mereka melangkah terus di lorong yang penuh dengan ruangan berisi orang-orang seperti Elvina yang terkurung di dalamnya. Beberapa diantaranya Elvina lihat berasal dari suku bangsa yang berbeda-beda.


Elvina melihat seorang pria berkebangsaan Eropa, selain itu ada juga yang berkebangsaan Asia timur, India, dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya pernah Elvina temui di ruang laboratorium ketika dirinya melakukan tes fisik.


"Aku jarang sekali membawa orang-orang keluar dari ruangannya untuk berjalan-jalan, apalagi untuk pergi meninggalkan laboratorium. Dalam keadaan kalian yang belum siap, kemampuan kalian masih belum stabil untuk di pergunakan. Karena bisa saja kalian tidak bisa mengontrol kekuatan kalian dan membahayakan nyawa orang lain," jelas profesor. Mereka melangkah di ujung lorong bercabang tiga. Melangkah ke arah kanan dimana robot-robot android melayang berpatroli dengan jumlah yang cukup banyak.


Elvina mengedarkan pandangannya. Ia menoleh ke arah belakang untuk melihat lorong apa itu. Dan begitu ia melihat ke arah sana, ia melihat lorong lain yang tampak seperti ruangan berisi tempat isolasi yang sama dengannya.


Profesor menoleh ke arah Elvina di belakangnya. "Kau mendengarkanku? Sejak tadi kau hanya diam tanpa merespon. Apakah ada yang ingin kau sampaikan atau yang ingin kau tanyakan, barangkali?" tanyanya. Elvina hanya diam, kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ruangan yang di maksud profesor. Beberapa kali mereka berbelok menyusuri lorong bercabang.


...***...