Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 343 - Rasanya mau muntah



...***...


Rei dan Lusia melangkah keluar dari dalam perpustakaan. Mereka pergi menuju taman samping untuk mencari udara segar.


"Rei!" Lusia menarik tangan Rei berusaha menahan langkah lelaki yang berjalan dihadapannya itu.


Rei berhenti dan menoleh ke arahnya. "Kau marah padaku?" Lusia beradu tatap dengannya. Sejak tadi, ia merasa kalau Rei marah karena kejadian tadi.


"Aku tidak marah. Aku hanya tidak suka melihat apa yang terjadi, tadi." Rei menghela napas berusaha menetralkan gemuruh di dadanya.


"Tadi itu benar-benar tidak di sengaja."


"Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak suka."


"Kau cemburu?" Lusia tersenyum mendengar nada bicara Rei yang seperti ini. Tampak jelas kalau lelaki yang menjadi kekasihnya itu cemburu atas apa yang baru saja terjadi.


"Tentu saja. Memangnya siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya dengan lelaki lain?"


Lusia tertegun. Ia tidak menyangka Rei akan bicara sejujur itu. Detik berikutnya, Lusia merekahkan senyum.


Lusia merentangkan tangannya dan memeluk Rei erat. Kali ini, Rei yang justru terkejut saat Lusia secara tiba-tiba memeluknya seperti ini.



"Kenapa kau memelukku?" Rei mendorong bahu Lusia pelan, ia menunduk menatap kekasihnya dengan wajah merona.


"Terima kasih," ujar Lusia.


"Terima kasih, untuk?" Rei menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Karena kau sudah cemburu denganmu." Lusia menyembunyikan wajahnya di pelukan Rei.


"K… kenapa kau berterima kasih? Kau suka melihatku cemburu denganmu?" Rei terbata. Lusia yang seperti ini membuat jantungnya berdebar.


"Aku berterima kasih, karena melihatmu cemburu denganku itu, membuktikan bahwa cintamu padaku benar-benar besar, dan itu membuatku sadar kalau ternyata bukan hanya aku yang sangat mencintaimu. Tapi kau juga."


"Tentu saja aku sangat mencintaimu." Rei merekahkan senyum, menguap puncak kepala Lusia pelan kemudian balas memeluknya erat.


Rei mendaratkan sebuah kecupan di keningnya. "Aku mencintaimu lebih dari apapun," bisiknya.


Lusia mendongak, sedikit berjinjit guna bisa mendaratkan sebuah kecupan di bibir lelaki itu.


"Aku juga mencintaimu lebih dari apapun," balasnya.


...*...


"Aku rasanya mau muntah," bisik Gloria yang kini bersembunyi di balik dinding yang letaknya tak jauh dari tempat dimana Rei dan Lusia berada.


Gloria dan Heru segera mengikuti Rei dan Lusia saat melihat keduanya keluar dari perpustakaan dengan wajah yang tak sedap. Rasa penasaran membuat mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dua sejoli itu.


"Astaga, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat." Heru menutupi kedua matanya. Ia baru saja melihat kedua sahabatnya berciuman.


"Kau belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya?" Gloria melirik Heru.


"Tentu saja belum. Usiaku belum sepenuhnya legal untuk melihat adegan seperti itu," gumamnya. Gloria hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan temannya.


"Tunggu, memangnya kau pernah melihat hal seperti itu sebelumnya?" Heru bertanya.


"Tentu saja."


"Astaga, aku tidak menyangka kalau kau orang yang seperti itu."


"Apa-apaan dengan nada bicaramu itu. Kau bicara seolah-olah aku ini seorang orang yang memiliki otak ngeres." Gloria mendelik. Ia benar-benar tersinggung dengan ucapannya.


"Bukankah itu sudah jelas?"


"Enak saja kau bicara! Dengar! Aku melihat hal seperti itu berulang kali karena aku melihatnya di film-film. Lagipula memangnya kenapa kalau aku melihat hal seperti itu? Itu bukan sesuatu yang memalukan."


...***...