
...***...
"Apa yang terjadi denganmu sampai seperti ini?" Leon tampak begitu cemas. Elvina terpaku memandanginya, ini baru pertama kalinya Elvina melihat seorang Leon begitu panik seperti sekarang.
"Ayo duduk." Leon menarik tangan Elvina dan menundukkan dirinya di atas bangku yang ada.
Leon tampak celingukan mencari seseorang, ia lalu berteriak memanggil salah satu office boy yang secara tidak sengaja sedang berjalan di sana. Ia segera meminta pria itu untuk membawakan kotak P3K di dalam mobilnya.
Tidak lama, pria itu datang dengan kotak yang diminta. Leon segera berjongkok. Membuka kotak P3K itu dan mulai sibuk mengobati luka Elvina.
"Ini akan sedikit perih," tutur Leon.
"S… saya bisa mengobatinya sendiri." Elvina berusaha mengambil kapas yang digenggam Leon. Tapi, lelaki itu lebih dulu menepis tangannya.
"Tidak. Biar aku saja,"
"T… tapi, pak…"
"Ini perintah!" tukasnya sambil menatap intens Elvina. Wanita itu dalam sekejap bungkam tak bersua. Ia lantas membiarkan Leon mengobati lukanya yang cukup parah.
Leon mengoleskan alkohol pada bagian luka Elvina, ia bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak membuat Elvina kesakitan.
"Apakah sakit?" tanyanya.
"T… tidak," jawab Elvina terbata.
"Kalau sakit, bilang padaku." Leon kembali memfokuskan diri membersihkan luka Elvina.
Leon beralih mengurus luka yang lain. Sementara Elvina hanya diam tak bergeming, matanya menatap lekat sosok Leon yang dengan cekatan merawat lukanya dan menutupnya dengan plester. Jujur saja, sebenarnya Elvina sama sekali tidak merasa kesakitan dengan luka yang ia dapat di tubuhnya. Karena, semua luka itu perlahan mulai sembuh seiring dengan kembalinya energi dalam tubuhnya.
Luka yang Elvina dapat kemarin saja, bahkan sudah hilang tanpa meninggalkan bekas ketika ia bangun di pagi hari.
"Selesai." Leon membereskan kotak P3K-nya begitu selesai menutup semula luka Elvina dengan plester.
"T… terima kasih, pak."
"Bukan masalah." Leon menaruh kotak P3K ditangannya ke sisi bangku, ia lalu duduk di samping Elvina. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini? Apakah kau kecelakaan?"
"Huh? Tidak." Elvina menggeleng pelan. Ia menundukkan kepalanya, bingung harus beralasan apa. Karena tidak mungkin ia menjelaskan apa yang sebenarnya pada Leon.
"Lalu kenapa kau bisa sampai terluka kalau bukan karena kecelakaan?" Leon menatap Elvina lekat.
Astaga, kenapa dia malah bertanya? Bisakah kau tidak menanyakan hal ini? Aku bingung bagaimana menjelaskannya, teriak Elvina dalam hatinya. Elvina lalu berusaha mencari ide untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka agar Leon tak terus menanyakan mengenai lukanya.
"O… oh, saya lupa kalau saya masih memiliki banyak pekerjaan. Sa… saya permisi dulu, pak." Elvina beranjak bangun dari tempatnya. Leon cepat-cepat menghentikan langkahnya. Mencengkram pergelangan tangan Elvina dan menariknya hingga membuat Elvina kembali terduduk disampingnya.
"Jangan coba-coba untuk melarikan diri," tukasnya. Elvina membulatkan kedua matanya.
...***...