
...***...
"Mommy, Daddy..." Suara itu membuat Tiana dan Rivanno tersentak kaget. Keduanya spontan melepaskan pelukan mereka. Tiana berbalik dan mengusap air matanya, sementara Rivanno langsung menoleh arah anak itu.
"Ada apa, sayang?" tanya Rivanno sambil tersenyum simpul. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
"A-aku hanya ingin menanyakan apakah, Mom, dan Dad melihat bukuku?" tanya anak itu dengan raut wajahnya bingung.
"Buku apa, sayang?"
"Buku jurnal yang Minggu lalu aku tunjukkan pada Daddy, ingat? Aku tidak bisa menemukannya di manapun."
"Benarkah? Mungkin kau lupa menyimpannya. Apakah kau sudah mengecek di rak biasa kau menyimpannya?"
"Sudah. Tapi aku tidak bisa menemukannya di manapun. Apakah jangan-jangan bukunya hilang ya?"
"Bukunya ada, sayang. Mommy menyimpannya di atas meja belajarmu. Mungkin saja tercampur dengan buku yang lain, coba kau cek lagi lebih teliti, okay?" Tiana berbalik setelah selesai menyeka air matanya. Ia tersenyum menatap anak perempuannya.
"Sungguh? Baiklah akan aku cek lagi." Anak itu berbalik dan segera berlari menuju kamarnya.
"Hati-hati, Luna. Jangan lari-lari, nanti kau bisa jatuh!" teriak Rivanno saat melihat putrinya berlari dengan begitu bersemangatnya. Ia tersenyum simpul menatap putrinya yang semakin lama semakin terlihat mandiri, Luna tampak menunjukkannya dengan jelas kesiapannya menjadi seorang kakak. "Dia tumbuh semakin mandiri. Aku jadi semakin kagum dengan putri kita..."
Tiana menghela napas lega. Tadi itu hampir saja Luna melihatnya ketika dia sedang menangis. Sebagai ibu, Tiana tidak pernah ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Luna, putrinya. Karena dia tidak ingin membuat putrinya merasa sedih kalau tahu apa yang dirasakannya. Rivanno yang menyadari hal itu lantas mengusap pundaknya perlahan.
"Apakah kau setakut itu untuk menunjukkan sisimu ini pada putri kita?"
"Kalau begitu, maka lebih baik kau jangan terlalu memikirkan tentang Dorothy. Aku tahu mungkin sulit. Tapi kau juga harus memikirkan tentang Luna, dan kesehatanmu. Terlebih kau juga kan sedang hamil. Terlalu stress bisa berakibat buruk bagi bayi dalam kandunganmu."
"Aku mengerti..." Tiana menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku akan tetap berusaha untuk memperbaiki mesin itu. Aku akan menghubungi profesor yang menangani masalah kita dan menanyakan bagaimana perkembangannya. Siapa tahu ada kabar baik yang mereka bawa untuk kita."
"Baik. Terima kasih, sayang... karena kau sudah selalu mengusahakan yang terbaik untukku, dan keluarga kita.." Tiana mencium bibir suaminya lembut. Rivanno tersenyum tipis. Sekarang wajah Tiana terlihat sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya ketika dia murung.
"Jangan sedih lagi, jangan membuatku cemas. Okay?"
"Iya."
"Kalau begitu, aku harus bersiap. Oh ya, apakah kau melihat dasiku?" Rivanno mengalihkan pembicaraan. Dia baru ingat kalau niatnya mencari Tiana adalah untuk menanyakan perihal dasi yang biasa dikenakannya untuk bekerja.
"Aku menyimpannya di tempat yang berbeda. Kemarin aku menata ulang posisi benda di dalam lemarinya."
"Sungguh?"
"Tunggu di sini, aku akan mengambilkannya untukmu."
"Baiklah, terima kasih."
Tiana beranjak dari tempatnya. Wanita itu berjalan menuju arah kamar mereka untuk mengambilkan dasi yang dia simpan di lemari dengan posisi yang berbeda. Sementara itu, Rivanno menunggu di sana. Lelaki itu sekali lagi terdiam sambil memandangi punggung istrinya yang kini berjalan semakin menjauh darinya. Rivanno masih menyesal pada Tiana atas semuanya.
...***...