
London, Inggris.
2021
Pria berwajah asia itu melangkah keluar dari dalam mobil yang ditumpanginya. Dia terdiam sambil membenahi jas yang dikenakannya sementara supirnya sibuk menutup pintu mobil. Sejenak dia memandangi gedung yang posisinya tak terlalu jauh dari tempatnya berada.
"Yeogieseo gidalineun ge joh-eul geoya!" katanya, pada si supir. Bicara dalam bahasa Korea dengan nada yang tegas. Lelaki yang menjadi sopirnya itu membungkuk sambil berkata, "Algessseubnida, daepyonim."
Tidak lama kemudian lelaki berjas rapi itu melangkah menuju arah gedung yang dilihatnya. Lelaki itu mengenakan stelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi yang rapi. Dengan penuh percaya diri dia melangkah masuk ke dalam gedung dan langsung berjalan menuju arah lift tanpa bertanya pada resepsionis seolah dia sudah tahu ke lantai berapa dia harus melangkah. Di perjalanan menuju lift, dia tidak sengaja berpapasan dengan seorang lelaki Eropa yang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya. Dia sama-sama mengenakan jas yang rapi.
Pria Eropa yang dilihatnya berjalan dengan tangan sibuk memegangi ponselnya. Bicara dengan seseorang lewat telepon. Ketika mereka berpapasan, mata mereka sempat saling beradu satu sama lain. Namun hanya sekilas sebelum akhirnya mereka kembali sibuk dengan tujuan masing-masing.
Tiba di depan lift, lelaki itu langsung menggunakan kakinya untuk menahan pintu lift yang baru saja akan tertutup. Hal itu membuat pintu kembali terbuka, dan dia bisa melihat seorang remaja berdiri di dalam sana. Lelaki itu memiliki postur tubuh tegap tinggi dengan kulit putih dan rambut hitam pekat. Selain itu dia memiliki garis rahang yang tegas dan bulu mata lentik dengan kelopak mata yang indah. "Thank you!"
Pria itu tersenyum ke arah remaja di dalam sana yang telah membantu menahan pintu lift untuknya.
"No problem," balas Rei. Pria itu langkah masuk dan berdiri di sebelah Rei. Dia sempat melirik ke arah nomor lantai di sana, namun sama sekali tak berniat untuk menekannya. "Maaf, anda mau ke lantai berapa?" tanya Rei dengan sopan.
Lelaki itu meliriknya lalu berkata bahwa dia akan pergi ke lantai gedung yang sama dengannya. Rei hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan lelaki itu. Rei pikir mungkin saja lelaki itu adalah salah satu tamu undangan Lucy. Tiba di lantai tempat acara pernikahan Lucy di gelar, mereka berdua melangkah keluar dari dalam lift.
Pria tadi berjalan meninggalkan Rei di belakang, sementara fokus Rei mendadak beralih pada suara ponselnya yang baru saja berbunyi. Lelaki itu merogoh kantongnya dan mengecek siapa yang baru saja mencoba menghubunginya. Dan begitu mengecek ponselnya, Rei mendapati nama Elvina tertera di sana. Dengan segera lelaki itu mengangkat telepon dari sepupunya itu dan berjalan menyusuri koridor. Melangkah menuju tempat Elvina berada.
Wanita itu sedang berada di ruang rias tempat dimana Lucy sedang di dandani. Rei memintanya untuk datang karena Lucy ingin mereka berfoto terlebih dulu sebelum acaranya digelar.
...*...
Kenapa wajah lelaki itu tidak asing, ya? Dimana aku pernah melihatnya? Nico membatin. Pria itu mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat kembali dimana dia pernah bertemu dengan lelaki yang sempat berpapasan dengannya.
Tunggu... Dia! Benar! Itu dia. Aku yakin itu adalah dia. Aku harus segera memastikannya! Nico berlari ke dalam gedung dan kembali mengeluarkan ponselnya. Dengan segera dia mencari kontak Daniel dan mencoba menghubunginya.
...*...
"Kalian tampak begitu suram!" celetuk Amanda sambil memandangi kedua seniornya yang berdiri dengan wajah murung. Aland dan Daniel melirik dengan malas ke arahnya yang baru saja tiba.
"Mungkin karena ini adalah hari pernikahan Lucy," ujar Jean menanggapi. Wanita itu tampak cantik dengan gaun putih yang dikenakannya. Dia datang dengan menggenggam gelas berisi minuman yang dia ambil.
"Memangnya ada apa dengan pernikahan senior Lou? Bukankah seharusnya mereka juga senang?" Amanda mengerutkan kening, menatap Jean tidak mengerti.
"Aland sudah pasti patah hati karena Lucy akhirnya akan benar-benar berhubungan serius dengan Felix. Sementara Daniel... Aku tidak mengerti kenapa dia sedih."
"Tentu saja aku sedih karena setelah ini Lucy tidak akan bisa menghabiskan waktu bersama kita lagi. Memangnya kau tidak sedih?" balas Daniel cepat. Sebenarnya alasan yang membuatnya sedih sama seperti Aland. Tapi Daniel memang tidak pernah ingin menceritakan perasaannya pada Jean. Baginya rahasia hatinya cukup antara dia dan Lucy saja yang tahu. Walaupun seharusnya Daniel bisa move on dari Lucy karena pernyataan cintanya yang ditolak sudah berlalu selama bertahun-tahun lamanya. Jauh sebelum Aland menyatakan cintanya pada Lucy.
"Aku tidak sedih. Aku justru senang kalau Lucy bahagia. Dia pantas untuk bahagia, karena dia sudah melewati banyak sekali hal buruk dalam hidupnya..." Air muka Jean mendadak berubah murung. Kalimat terakhirnya seolah menggambarkan bahwa wanita itu belum bisa melupakan penderitaan yang dialami sahabatnya. Amanda, Aland dan Daniel bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Jean.
Alih-alih sedih karena sahabatku akan menikah, aku justru takut. Aku takut apa yang terjadi di masa lalu akan terulang kembali hari ini. Walaupun aku tahu seharusnya tidak ada alasan untuk pernikahannya kali ini gagal. Tapi entah kenapa aku merasa resah sejak tadi. Apakah mungkin karena aku masih terjebak di saat itu? Terjebak dalam kenangan masa lalu saat kekacauan di hari penting yang sempat melibatkan aku dan Lucy dalam posisi yang serba salah? Hubungan kami nyaris hancur hanya karena perasaan yang aku miliki untuk Aland. Jean mendadak diam. Berbagai adegan di masa lalu saat pernikahan Lucy dan Aland batal karena ulah Beatrix seolah kembali terekam dalam memorinya. Sampai saat ini kenangan itu masih menyiksa Jean. Dia masih merasa bersalah karena sudah menghancurkan pernikahan mereka.
Jean menghela napas dalam-dalam. Tak lama perhatiannya beralih ketika Daniel mendadak panik setelah menerima telepon dari Nico. "Ini gawat. Sir Nic mengatakan kalau dia baru saja melihat pria yang ciri-cirinya persis sama seperti 'dia' memasuki gedung ini. Sir Nic juga menginginkan kita untuk segera mengecek area sekitar acara pesta guna memastikannya!"
Daniel menekan kata 'dia' seorang mengisyaratkan pada mereka siapa yang dimaksud.
"Apa?" Jean melongo mendengarnya.
...***...