
...***...
"Tidak benar, kan?" Lusia masih ingin meyakinkan hati kecilnya.
"Apa kau pikir aku akan memintamu menjadi kekasihku kalau aku seorang penyuka sesama jenis?"
Lusia terdiam membenarkan ucapan Rei. "Aku menyukaimu! Dan aku tidak berbohong dengan perasaanku. Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengeceknya sendiri. Jantungku selalu berdebar lebih kencang setiap kali aku berada di dekatmu." Rei meraih tangan Lusia dan menempelkannya pada dadanya.
Lusia termangu, tangannya bisa merasakan debar jantung Rei yang begitu hebat.
"Tapi…"
"Lagipula. Apakah hanya sebatas ini cintamu padaku? Maksudku… kalau rumor yang mengatakan aku penyuka sesama jenis itu benar, apakah kau akan berhenti mencintaiku? Apakah kau akan membenciku setelah kau tahu semuanya?" Rei beradu tatap dengan Lusia dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja tidak! Aku tidak akan membencimu walaupun itu kenyataannya. Aku akan tetap mencintaimu bagaimanapun keadaanmu, hanya saja… mungkin aku akan kecewa kalau ternyata alasanmu menolakku dulu adalah hal ini." Lusia sudah mulai bisa menguasai dirinya, membuat emosinya merendah dan mulai bisa sedikit lebih tenang.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi. Aku sudah bilang kalau apa yang mereka katakan di artikel itu tidak benar! Jadi tidak ada yang perlu kau pikirkan lagi."
Lusia memeluk Rei erat, ia kembali menangis dalam dekapannya. "Aku minta maaf… aku minta maaf karena sudah percaya begitu saja dengan apa yang mereka tulis di artikel itu."
Rei membalas pelukan Lusia, berusaha membuatnya lebih tenang.
"Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu salah paham. Maaf karena berita yang muncul tentangku, kau jadi bahan perbincangan semua orang." Rei mengusap pelan punggung Lusia.
Setelah beberapa saat, mereka lalu melerai pelukannya. Beradu pandang dalam waktu singkat, saling mengagumi iris mata indah masing-masing.
"Aku mencintaimu." Lusia menatap kekasihnya itu lekat.
"Aku juga mencintaimu," balas Rei dengan suara yang entah kenapa selalu tenang walau dalam keadaan apapun.
"Pipimu merah. Apakah sakit?" Lusia mengusap bagian wajahnya yang merah.
"Aku baik-baik saja," jawab Rei.
"Pasti sakit, kan? Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Semua itu, terjadi begitu saja."
"Tidak perlu kau indahkan. Aku sungguh tidak apa-apa."
"Tidak. Aku yang tidak baik-baik saja melihatmu seperti ini. Ayo duduk, biar aku bantu agar lebih baik." Lusia menarik Rei dan memintanya duduk di bangku yang ada di sana. Gadis itu berlari ke kantin, untuk membeli es untuk meredakan memar bekas tamparan yang ia tinggalkan.
Tak lama, Lusia kembali dengan kantong plastik berisi es batu. Ia menempelkan es itu pada bagian wajah Rei.
"Apakah lebih baik?" Lusia memastikan.
"Ya. Terima kasih." Rei mengangguk sambil tersenyum.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, aku juga tidak menyangka kalau tamparanku akan sekeras ini." Lusia merasa bersalah jadinya.
"Kau tidak perlu meminta maaf, karena aku memang pantas mendapatkannya. Anggap saja hukuman karena sudah membuatmu cemas dan berpikir yang tidak-tidak."
"Tetap saja aku merasa bersalah." Lusia menundukkan kepalanya.
"Aku sangat emosi karena melihatmu dengan Fandy tadi," gumamnya.
...***...