
...***...
"Ya… aku setuju dengan kak Leon. Kak El, memang seperti itu orangnya. Terutama dia adalah kakak yang paling penyabar yang pernah aku miliki. Selain itu, dia sudah seperti ibu kedua bagiku." William terkekeh pelan membenarkan ucapan Leon mengenai kakaknya.
Leon hanya bisa tersenyum menanggapi kalimat William sambil menoleh ke arahnya.
...*...
"Bagaimana? Kalian sudah memperingatkan dia?" tanya Anton pada beberapa anak buah papanya itu begitu mereka tiba di rumah.
"Kami sudah memperingatkan anak itu untuk tidak mengganggu tuan muda lagi."
"Benarkah? Bagus, dengan begitu dia tidak akan pernah berani untuk ikut campur dalam urusanku lagi." Anton tersenyum penuh kemenangan begitu mendengar ucapan dari anak buah papanya.
"Tapi ada masalah lain." Pria itu lanjut bicara, membuat senyuman di wajah Anton seketika pupus bergantian raut wajah bingung.
"Masalah apa?" tanyanya.
"Kami bertemu dengan kakaknya, dan dia bilang kalau kakaknya itu kenal dengan tuan besar."
"Benarkah? Siapa kakaknya memang?" Anton menaikkan alisnya bingung.
"Namanya Leon De… Del… Del apa namanya, ya? Sebentar." Lelaki itu mengeluarkan kartu nama yang diberikan Leon padanya.
Ia menyipitkan mata, mengeja setiap huruf pada nama belakang Leon yang rumitnya bukan kepalang.
"D-e-l-a-c-r-o-i-x." Ejanya pelan.
"Leon Delacroix? Siapa dia? Aku seperti pernah mendengar namanya," gumam Anton sambil mengerutkan kening berusaha mengingat nama yang di sebutkan oleh anak buah papanya.
"Apa yang dia bilang saat bertemu dengan kalian?" tanya Anton.
"Benarkah? Ternyata, berani juga dia melakukan hal itu."
"Apa yang akan anda lakukan selanjutnya tuan muda?"
"Biar aku yang urus ini. Akan aku adukan ini pada ayah." Anton menarik kartu nama di tangan anak buahnya.
"Baiklah kalau begitu kamu permisi, tuan muda." Lelaki itu membungkuk lantas berlalu meninggalkan Anton.
Ayah pasti akan marah besar dan tidak akan tinggal diam kalau tahu aku di ganggu oleh anak dari salah satu koleganya ini. Dia pasti akan langsung memutuskan bisnisnya agar anak itu tidak terus berulah, pikir Anton yang kini sangat gembira. Ia melenggang menuju ruang kerja ayahnya guna menemui lelaki itu di sana.
Tok! Tok! Tok!
Anton mengetuk pintu ruang kerja ayahnya begitu ia tiba di depan pintunya.
"Masuk!" Seru lelaki di balik pintu sama.
Anton lalu mendorong pintu ruang kerja ayahnya. Fokus Harrison beralih pada suara yang di dengarnya. Begitu pintu terbuka, ia mendapati putranya melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.
Anton menghampiri ayahnya, ia segera menceritakan apa yang terjadi pada lelaki yang jadi ayahnya itu. Menjelaskan setiap detail kejadian yang terjadi, dan mengakhirinya dengan rengekan meminta ayahnya untuk bertindak.
"Dan kakaknya meminta ayah untuk datang ke kantornya besok," jelas Anton mengakhiri ceritanya sambil menyodorkan kartu nama yang di berikan salah satu anak buah ayahnya tadi.
Harrison meraih kartu nama itu dan membacanya. Matanya membulat saat menyadari siapa nama yang tertera di sana.
Harrison berusaha untuk tenang. Ia mendongak menatap anaknya yang kini berdiri di dekat meja tempatnya terduduk.
"Biar ayah perjelas situasinya," tutur Harrison yang kini beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri putranya dan berdiri tepat dihadapannya.
"Maksudnya, kau berurusan dengan…"
...***...