Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 44 - Suntikan



...***...


Keduanya membulatkan mata. Mobil mereka tiba-tiba hancur secara perlahan hingga hanya menyisakan bagian kerangkanya saja.


Elvina dan William yang tadinya berada dalam mobil dalam keadaan aman, seketika merasakan dinginnya udara malam dibawah hujan deras yang melanda bumi.


Pria di sisi Elvina dan William kemudahan menarik paksa mereka berdua untuk berdiri dari tempat duduknya.


"Mereka orang yang sama," gumam kedua pria itu pelan seraya menatap layar hologram yang muncul pada telecosys yang terpasang di pergerakan tangan mereka.


Di layar hologram yang muncul, ada foto Elvina dan William. Mereka segera menarik paksa Elvina dan William.


"Lepaskan! Tolong!" teriak Elvina berusaha mencari pertolongan. Sialnya hujan terlalu lebat hingga meredam suaranya.


William memberontak hebat saat pria itu menariknya secara paksa. Perlawanan mereka berdua terbilang sia-sia, karena kedua pria itu berhasil menariknya lepas dari jok yang mereka duduki.


Elvina dan William di bawa menuju mobil yang berbeda. Elvina dan William terus memberontak, sesekali mereka menggunakan kaki dan tangan untuk menyerang pria-pria itu.


"Lepaskan aku! Will!" teriak Elvina sambil menatap adiknya yang hendak dibawa ke mobil yang berbeda. Matanya berkaca-kaca, dengan tubuh yang terus meronta.


"El!" William terus melawan pria yang mencengkeram erat tubuhnya.


"Lepaskan aku!" bentak William pada mereka. Namun, tak digubrisnya.



Mereka yang terus memberontak membuat dua diantara pria itu menghampiri Elvina dan William yang tubuhnya dicengkeram erat rekannya yang lain.


Di dekat Elvina dan William, mereka mengeluarkan sesuatu dari balik jas yang mereka kenakan.


Lelaki itu menghampiri bagian tengkuknya. Perlahan tapi pasti, sebuah benda tajam yang begitu dingin, menembus masuk ke dalam jaringan kulit mereka berdua.


Elvina dan William meringis. Keduanya mendadak terdiam tanpa perlawanan saat rasa sakit mereka rasakan pada bagian belakang leher mereka.


Satu kali dorongan pada ujung suntikan yang di pegang mereka dalam sekejap membuat keduanya melemah.


Kedua pria itu lantas berdiri tegap setelah menyuntik Elvina dan William.


Elvina menatap lelaki yang baru saja menyuntikan sesuatu pada tubuhnya. Pandangan mata tajamnya berubah menjadi sayu secara perlahan-lahan.


A… apa yang sebenarnya mereka inginkan? pikir Elvina. Kelopak matanya semakin turun. Pandangannya mulai buram sampai akhirnya siluet pria-pria itu berubah menjadi kegelapan.


Elvina tak lagi dapat melihat apa-apa, ia tidak bisa merasakan apa-apa, atau bahkan menggerakkan apa-apa. Termasuk tubuhnya. Ia sama sekali tidak tahu apa selanjutnya terjadi pada dirinya.


...*...


Elvina membuka kedua matanya. Pandangannya kabur. Ia mengerjap beberapa kali hingga apa yang dilihatnya terlihat lebih jelas.


Elvina merasakan kepalanya sedikit sakit. Selain itu, ia merasa tangannya kebas dan nyeri. Ia meringis.


Dimana aku? pikir Elvina begitu ia dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas.


Hal yang dilihatnya pertama kali adalah sebuah benda berbentuk bulat yang melayang di udara. Benda itu mengingatkan Elvina pada lampu yang biasa di pakai dalam sebuah operasi di rumah sakit dalam drama-drama Korea yang ditontonnya, hanya saja bedanya. Lampu yang dilihatnya melayang tanpa tiang penyangga.


Elvina memandangi langit-langit ruangan tempatnya berada. Warnanya putih bersih dan begitu terang.


...***...