Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 93 - Malam



...***...


"Siap, waktunya pergi," gumam Elvina yang baru selesai menaikkan resleting jaketnya. Jaket merah muda dengan garis putih di bagian lengannya. Hangat, harum, dan nyaman. Jaket ini mampu membuatnya kebal untuk menghadapi udara malam ini.


Elvina sudah mengenakan sepatunya. Ia melangkah menghampiri pintu dan mengintip sejenak untuk memastikan keadaan aman.


Orangtuanya tidak lagi mengizinkannya untuk membantu mencari Rei, karena mereka pikir dengan bantuan polisi saja sudah cukup. Tetapi, kedua orangtuanya tidak tahu kalau setiap malam, Elvina selalu menyelinap keluar rumah untuk mencari Rei dan berharap bisa menemukannya.


Elvina baru pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Oke, aman. Sekarang waktunya keluar, batinnya. Elvina menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Ia melangkah menuju jendela kaca di kamarnya.


Jendela itu, menghadap langsung ke arah halaman samping yang dekat dengan taman milik keluarganya.


Elvina membuka jendelanya secara perlahan. Ia memanjat naik kemudian melompat perlahan dengan kedua kakinya.


Bagi Elvina, dunia panjat memanjat bukanlah hal yang asing. Bahkan sejak kecil, dirinya dan Rei selalu pergi ke hutan tak jauh dari tempat mereka, hanya untuk mengambil bunga-bunga indah yang bermekaran pada dahan pohon tinggi.


Elvina turun dengan selamat. Ia menutup jendelanya secara perlahan agar tidak menciptakan bunyi.


Elvina tersenyum lega saat ia lagi-lagi berhasil keluar tanpa menciptakan bunyi sedikitpun. Namun mendadak dirinya dikejutkan oleh seseorang yang secara tiba-tiba menepuk pundaknya.



"Astaga!" Elvina tersentak kaget nyaris berteriak saking kagetnya. Ia berbalik dan mendapati William yang sudah berdiri dengan santainya di depan jendela kamarnya.


Adiknya itu mengenakan jaket dengan model yang serupa dengannya, hanya saja warnanya berwarna hijau.


"Kau membuatku kaget saja!" gerutu Elvina.


"Sssttt… nanti mama dan papa bangun," bisik William.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Menunggumu keluar," jawabnya datar.


"Tidak. Aku hanya tidak sengaja melihatmu keluar setiap malam, tepat ketika aku keluar untuk mencari Rei."


"Kau juga keluar malam untuk mencari Rei?" Elvina menatapnya dengan raut wajah terkejut. William hanya mengeluarkan cengirannya seraya menggaruk tengkuknya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku, kalau tahu kau juga keluar, kita bisa mencarinya bersamaan."


"Huh? Aku kira kau akan marah dan memintaku untuk tidak pergi."


"Untuk apa aku marah. Lagipula bukankah kau sendiri yang berkata kalau dua lebih baik dari satu?"


"O… oh, ya… kau benar juga hehe."


"Sudahlah. Ayo pergi."


Elvina beranjak dari sana dengan diikuti William disisinya.


...*...


Elvina dan William menghentikan langkah mereka di salah satu jalan di dekat laut lepas.


Mereka berdua menghampiri tepi jalan dimana terdapat tempat untuk beristirahat. Ada bangku yang berjejer rapi yang menghadap secara langsung menuju laut lepas.


Elvina dan William menghampiri pagar besi yang ada. Keduanya berdiri di belakang pagar seraya menatap ke arah barat dimana hamparan laut lepas berada.


Tenang. Hanya suara air yang mengalir yang dapat mereka dengar. Langit malam itu tidak terlalu banyak dihiasi bintang, hanya bulan yang mendominasi malam itu.


"Rasanya sekarang aku sedikit lebih tenang," gumam Elvina seraya menghirup udara malam.


"Kira-kira dimana Rei berada, dan kemana dia pergi?" William tiba-tiba bersuara. Elvina terdiam dengan kepala tertunduk.


"Aku tidak tahu."


...***...