
...***...
"Aku pulang." Elvina berjalan menuju ruang tengah dimana Rei dan William tengah duduk di sofa seraya mengobrol bersama. Atensi keduanya seketika tersita oleh kedatangannya.
"Kau sudah pulang? Eh? Astaga…" William bangun dari tempatnya. Ia menghampiri Elvina yang baru saja tiba. "…kau kenapa?" tanyanya sambil menatap Elvina dari atas sampai bawah. Keadaannya benar-benar tampak kacau. Beberapa plester menempel di tubuhnya.
Elvina menghampiri sofa, dan duduk di samping Rei tanpa menghiraukan pertanyaan adiknya.
William ikut duduk di sofa kosong dekatnya. "Aku bertemu dengannya lagi," ucap Elvina.
William membelalakkan mata. "Apa? Dia berusaha menangkapmu lagi?"
"Iya. Mereka tidak pernah lelah untuk menangkap kita." Elvina menghela napasnya panjang. Ia benar-benar lelah dengan Joe yang terus saja mengejarnya.
"Lalu apa yang terjadi? Kalian bertarung lagi? Apakah dia kalah?"
"Aku yang kalah. Dia membawa ikut serta teman-temannya, sampai-sampai aku tidak bisa menghadapi mereka. Aku hampir saja berhasil mereka tangkap."
"Tapi, kenapa kau bisa lari?"
"Rei membantuku." Elvina menoleh ke arah lelaki yang duduk di sampingnya tersebut. William menoleh dengan raut wajah terkejut.
"Tunggu. Apa? Rei membantumu? Bagaimana bisa? Apakah Rei juga tahu tentang…" William menggantungkan ucapannya seraya menoleh ke arah Rei.
"Ya, Rei tahu kalau kita adalah evolver." Elvina mengangguk pelan. William tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"B… benarkah?"
"Sejak kapan kau tahu kalau kita adalah evolver?"
"Kemarin. Apa kau tidak ingat saat aku pulang dalam keadaan terluka? Di saat itu, Rei juga ada di sana bersamaku."
"O… oh… benar. Aku baru ingat."
"Sejak kemarin, dia tahu kalau aku adalah evolver. Begitu juga dengan Joe," tutur Elvina seraya menundukkan kepalanya.
"Tapi, yang membuatku heran… kenapa kau bisa tidak terpengaruh oleh kekuatan Joe? Apakah kau juga evolver, sama seperti kami?" Elvina melipat kedua tangannya seraya menatap Rei lekat.
"Rei juga tidak terpengaruh dengan kekuatannya? Maksudmu, kekuatan mengendalikan waktunya, yang membuatnya bisa menghentikan waktu?" tanya William. Elvina mengangguk pelan.
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu," ujar Rei.
"Kalau kau memang evolver seperti kami… seharusnya kau hanya memiliki dua kemampuan. Karena, manusia evolusi seperti kami juga memiliki batasan kemampuan. Dimana setiap orang hanya memiliki dua kemampuan dengan satu kemampuan yang berhubungan dengan otak dan satu kemampuan yang berhubungan dengan perlindungan diri. Tapi, kenapa kau memiliki lebih dari dua kemampuan?" Otak Elvina dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Tunggu. Apa yang aku lewatkan? Kenapa kalian tidak memberitahuku apa-apa?" William meminta penjelasan. Ucapan Elvina benar-benar membuatnya bingung, apalagi William tidak tahu apa-apa sama sekali.
Elvina menoleh ke arah adiknya. "Rei memiliki lebih dari satu kemampuan. Kemarin dia bisa membaca isi hati dan pikiranku, kemudian tadi… dia bisa melakukan telepati denganku, lalu dia juga bisa tahu dimana aku berada lewat mimpi yang dialaminya," jelasnya. William speechless dibuatnya. Ia tidak bisa percaya dengan penjelasan Elvina barusan.
"R… Rei sungguh memiliki semua kemampuan itu?" lirihnya kemudian. Elvin kembali membalas dengan anggukan kepala.
"Selain itu, motor miliknya juga tidak bisa terpengaruh oleh kekuatan Joe yang seharusnya membuat segalanya berhenti."
...***...