Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 278 - Pacaran



...***...


Rei berjalan menyusuri koridor. Ia baru saja melihat Lusia yang telah berjalan keluar lebih dulu. Rei hendak mencarinya dan menagih jawaban atas permintaannya Minggu lalu.


Rei tidak sempat berbicara dengannya saat pagi dan siang hari karena Lusia terus saja menghindar bahkan keberadaannya mendadak sulit untuk ia temukan.


Kali ini aku harus bicara dengannya, pikir Rei yang terus berjalan menyusuri koridor. Heru bahkan tertinggal jauh di ruang kelasnya.


Rei mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari Lusia yang entah dimana.


Fokusnya terhenti ketika ia akhirnya menemukan gadis yang seharian tadi dicarinya. Lusia terlihat sedang bertengkar dengan seolah laki-laki yang kini menarik tangannya.


Siapa dia? Kenapa Lusia terlihat kesal padanya? batin Rei. Ia terdiam memperhatikan lelaki itu.


"Aku mau bicara denganmu! Aku tidak ingin kita putus seperti ini." Fandy menarik tangannya.


"Dengar! Aku sudah benar-benar muak dengan sikapmu yang posesif itu. Aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi."


"Aku tidak bisa terima ini! Kau memutuskanku begitu saja."


Melihat Lusia yang di tarik-tarik seperti itu oleh Fandy membuat Rei kesal. Ia segera menghampiri mereka.


Tiba di sana, Rei segera mencengkram pergelangan tangan Fandy, membuat fokus keduanya spontan beralih pada kedatangannya yang tiba-tiba.


"Jangan paksa dia kalau dia tidak ingin berbicara denganmu!" Rei menghempaskan tangan Fandy, membuat cengkramannya pada Lusia lepas.


Rei menarik Lusia hingga gadis itu beralih di belakang punggungnya. Fandy tersenyum miring melihat Rei yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan tak bersahabat.



"Tentu saja ini menjadi urusanku, aku peduli karena sekarang dia kekasihku! Jadi aku tidak akan membiarkanmu melukai atau memaksanya seperti itu!" Rei menatapnya tajam. Lusia dan Fandy terdiam dengan wajah kaget mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya.


"K… kalian sudah pacaran?" Fandy tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ya, dan aku akan melindungi dia dari orang sepertimu!"


"Tidak mungkin! Kau pasti berbohong, kan?"


Lusia yang sejak tadi hanya diam lantas berpikiran untuk bertindak agar Fandy tidak terus mengganggunya.


"Untuk apa Rei berbohong? Itu memang benar. Kami sudah pacaran." Lusia meraih tangan Rei dan menggenggamnya.


Rei tertunduk menatap tangannya yang kini bertaut dengan tangan Lusia.


"Jadi aku harap kau tidak terus menggangguku!" Lusia menarik tangan Rei pergi dari sana.


Fandy terdiam menatap kepergian Rei dan Lusia yang kini terus menjauh dari pandangannya hingga akhirnya menghilang di belokan yang dilihatnya.


"Aku tidak bisa terima ini! Mereka benar-benar pacaran? Bagaimana bisa?!" Fandy mengepalkan tangan erat. Emosinya perlahan naik, memuncak hingga ke ubun-ubun.


Fandy sejak dulu sudah suka dengan Lusia, dan berharap ia selalu menjadi miliknya. Ia tak bisa merelakan seorang Lusia harus bersama dengan lelaki lain.


Aku tidak akan tinggal diam! Aku tidak akan diam saja melihat kalian bahagia di atas penderitaanku! Aku akan memisahkan kalian berdua, karena Lusia hanya milikku! Milikku!


Fandy beranjak pergi dari sana, meninggalkan koridor yang kini perlahan diisi oleh siswa-siswi yang berhamburan keluar dari ruang kelasnya masing-masing. Koridor lantai berubah ramai.


...***...