Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 335 - Vi kom!



...***...


"Vi kom. Dette er stedet du skal," ujar si supir taksi saat mereka tiba di kediaman Jessy tepat malam-malam. Ia menoleh ke arah Derek dan Pricilla yang menjadi penumpangnya sejak di bandara.


(Kita sampai. Ini adalah tempat yang kalian tuju)


Derek menoleh ke arah bangunan di sebelah kiri mereka. Pricilla menoleh keluar jendela, dan melihat rumah yang mereka tuju.


"Kita sudah sampai?" tanya Pricilla pada Derek.


"Ya." Derek sibuk mengambil uang dalam tasnya untuk membayar ongkos taksi yang mereka tumpangi.


"Ok, takk," sahut Derek dalam bahasa Norsk yang mana merupakan bahasa asli Norwegia. Ia menyodorkan beberapa lembar krona pada si supir taksi dengan sejumlah ongkos taksi yang harus di bayarnya.


(Baiklah, terima kasih)


"Du kan snakke Norsk?" Si supir menatapnya dengan raut wajah terkejut, pasalnya saat Derek menghentikan taksinya tadi. Ia berbicara dengan bahasa Inggris.


(Kau bisa berbicara dalam bahasa Norsk?)


Derek tersenyum simpul sebelum kemudian menjawab, "bare noen få." Si supir mengangguk-anggukkan kepalanya pelan menanggapi ucapannya.


(Hanya sedikit)


Pricilla sejak tadi diam termangu mendengar pembicaraan keduanya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.


"Ayo kita keluar." Derek beralih fokus pada Pricilla. Wanita itu segera membuka pintu dan menarik barang-barangnya keluar dari dalam taksi dengan diikuti oleh Derek di belakangnya.


Sejurus kemudian, si supir taksi kembali melajukan mobilnya meninggalkan Derek dan Pricilla yang tiba di kediaman Jessy yang letaknya tepat berada di tepi jalan.



"Kau tenang saja. Ini bukan pertama kalinya aku datang kemari," sahut Derek sembari terus melangkah menghampiri rumah sederhana yang di penuhi dengan tanaman indah di halaman rumah.


Rumahnya memang sederhana, namun nampak cantik dan terawat apalagi dengan adanya bunga-bunga yang menghiasi pagar depan rumahnya.


Tiba di pintu depan, Derek segera menekan bel yang ada.


"Sepertinya tidak ada siapa-siapa," bisik Pricilla saat tidak ada jawaban sama sekali setelah beberapa saat mereka menekan bel pintu depan.


"Tidak mungkin. Dia pasti ada di rumah," sahut Derek yang kembali menekan bel. Sekali lagi, hening. Tidak ada suara atau tanda sedikitpun ada seseorang di dalam sana.


"Lihat? Sepertinya dia sudah tidur, atau mungkin dia tidak ada di rumah. Di dalam benar-benar sepi," ucap Pricilla. Derek mulai mengetuk pintunya dengan tangan, ia mengetuknya berulang kali sambil berteriak memanggil Jessy.


"Jessy er ikke hjemme!" Seorang pemuda berucap dengan suara kencang hingga membuat fokus Derek serta Pricilla beralih ke arah datangnya suara.


(Jessy tidak ada di rumah)


Di sana, mereka mendapati seorang lelaki tinggi dengan kulit putih, berwajah tampan dengan iris mata indah berjalan menghampiri mereka berdua.


Pricilla berdecak kagum saat sosok lelaki itu benar-benar rupawan.


"Can you speak English?" tanya Derek yang berusaha berkomunikasi dengannya. Ia memang mengerti dengan ucapan lelaki itu sebelumnya, namun tidak terlalu pandai kalau harus mengobrol lebih panjang.


(Kau bisa bicara bahasa Inggris?)


"Yes, I can," sahutnya. Derek menghela napas lega sembari merekahkan senyum. Sekarang ia bisa berbicara dengannya.


...***...