
...***...
"Lalu, kenal kita di sini?" tanya Rei yang tidak mengerti.
"Hanya di tempat ini, Elvina dan William bisa melihatku. Maka dari itu, aku ingin bertemu mereka di sini agar tuan bisa menjelaskan pada mereka lebih mudah, sekaligus agar mereka percaya dengan apa yang tuan katakan."
"Oh… begitu rupanya…"
"Sekarang ayo, Elvina dan William sudah menunggu tuan di sana." Louis menunjuk ke arah hamparan padang rumput dimana Elvina dan William berada.
Mereka melangkah menghampiri Elvina dan William.
"Elvina! William!" panggil Rei pada kedua sepupunya. Mereka berdua spontan menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Rei yang datang bersama pria albino yang tak lain adalah Louis.
"Rei!" Elvina dan William berlari menuju arahnya yang baru saja tiba.
"Sudah sangat lama kita tidak kemari," kata Elvina begitu tiba dihadapannya. William mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya.
"Kalian sudah pernah kemari sebelumnya?"
"Kau tidak ingat, Rei? Dulu kita selalu bertemu di sini dan menghabiskan waktu bersama. Kau yang selalu membawa kami."
"Ya." William mengangguk.
"Oh, kau juga. Sudah sangat lama kita tidak bertemu." Elvina menyapa Louis. Pria albino itu hanya tersenyum ke arahnya.
"Jadi, kau juga sudah bertemu dengan Louis?" Rei masih nampak bingung.
"Sebelumnya, iya. Tapi semenjak kau hilang, kami tidak pernah bertemu lagi."
"Begitu rupanya…"
"Jadi, kenapa kita di sini?"
"Ada yang ingin aku jelaskan pada kalian mengenai kejadian tadi siang saat kalian bertanya padaku apakah aku yang melakukan semua itu."
"Oh, jadi ini alasannya kau meminta kami untuk datang?"
"Ya, dan akan aku jelaskan kalau apa yang tadi terjadi itu adalah berkat bantuan dari Louis."
Rei menganggukkan kepalanya, ia lalu menjelaskan semua yang terjadi secara mendetail pada Elvina dan William.
...*...
Andrich membuka kedua matanya perlahan. Ia masih merasa sedikit lelah, apalagi ia baru tidur selama satu jam setengah.
Mereka melakukan pergelutan selama semalaman penuh, dan baru berakhir satu jam setengah yang lalu.
Andrich beralih fokus pada Melinda yang terbaring di sisinya tanpa sehelai benangpun.
Ia mengeluarkan smirk-nya.
"Kau bilang aku menyesal? Tapi sepertinya bukan aku," bisiknya pelan sembari menatap Melinda yang terpejam.
Melihat tubuh wanita itu membuatnya kembali tegang. Bagaimana tidak? Tubuh wanita itu begitu seksi.
"Akan kubuat kau mengakui kekalahanmu sendiri," gumam Andrich yang kemudian bangun. Ia mendekatkan diri ke arah Melinda, meraih satu k**d*m berukuran XL yang hanya tersisa satu.
Dengan taringnya, ia membuka benda itu dan memasangnya. Dengan bantuan sedikit pelumas, ia bersiap memasukkan miliknya.
Andrich menggerakkan tubuhnya begitu miliknya berhasil masuk.
Melinda yang tengah tertidur mulai terusik saat benda keras menerobos masuk dalam dirinya. Rasanya begitu panas, dan seisi lubangnya penuh.
"Ngh… ahh…" erangnya.
Ia membuka kedua matanya perlahan. Rasanya sangat sulit untuk membuka mata, terlebih seluruh energinya seakan terkuras habis setelah pergelutan mereka tadi malam. Tapi baru saja ia beristirahat sejenak, Andrich sudah menghujam miliknya lagi.
"A… ahh… a… apa yang kau lakukan. Hentikan… ngh… aku tidak kuat lagi. A… aku le… lelah…" lirihnya sambil sesekali mengerang menahan gerakan Andrich yang semakin mempercepat setiap gerakannya.
Andrich menyibak rambut yang menghalangi pandangannya.
...***...