
...***...
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Lucy?" tanya Aland pada Leon yang berdiri di sampingnya.
"Lucy?" Leon mengerutkan kening. "Siapa Lucy?"
"Lucy." Aland menunjuk ke arah wanita pirang yang datang bersamanya.
"Apa yang kau maksud dengan Lucy? Namanya Liana, bukan Lucy."
"Liana?" Aland terdiam. Ia tidak pernah tahu kalau nama asli Lucy adalah Liana.
"Aku dan Liana sudah dekat sejak kami kecil. Dulu, kami sering merayakan Noël dan La Saint-Sylvestre bersama di Prancis."
"Noël? La Saint-Sylvestre?" Aland tak mengerti dengan dua istilah itu.
"Oh, maksudku Natal dan tahun baru."
"Memangnya apa hubungan kalian?"
"Dia kakak sepupuku."
"Apa?!" Aland tersentak mendengar ucapannya. Leon juga sampai kaget melihat reaksi Aland yang begitu terkejut saat mendengar ucapannya.
"Kalian sepupu?" ulangnya dengan wajah terkejut.
"Ya. Liana adalah kakak sepupuku. Ayahnya Liana dan ayahku adalah adik kakak. Kami akrab sejak kecil karena kami sama-sama anak tunggal. Dia kesepian karena tidak memiliki orang untuk di ajak bermain, begitu juga denganku. Sejak kecil kami tinggal terpisah. Liana tinggal di London, bersama keluarganya. Sementara aku tinggal di Prancis. Kami hanya bertemu dalam dua tahun sekali, pada hari Natal dan tahun baru. Tapi saat menginjak usia delapan tahun, setelah kepergian kakek dan nenek kami di Prancis. Kami tak pernah bertemu lagi, terlebih waktu itu keluargaku sudah pindah dan menetap di Indonesia," jelas Leon panjang lebar.
Aland terdiam. Ia jadi merasa bersalah karena sudah menduga hal yang tidak-tidak. Ia jadi menyesal karena sudah melukai hati wanita yang sempat jadi pujaan hatinya itu.
"Al!" Lucy mengguncang pundak rekannya itu hingga membuat Aland tersadar dari lamunannya.
"Ayo!" Lucy menarik tangan Aland, menuntunnya pergi mengikuti keluarga Leon yang kini berjalan di hadapan mereka.
...*...
London, Inggris.
Ethan menghampiri meja kerjanya dengan secangkir kopi panas di tangannya.
Ia duduk di kursi kebesarannya sembari menyesap pelan kopi yang baru dibawanya.
Ternyata masalah yang Lucy dan Aland hadapi lebih rumit dari dugaanku. Aku tidak menyangka kalau aku akan cukup lambat dalam respon semua fakta yang ada di hadapanku, batin Ethan.
Ia menaruh cangkir dalam genggamannya, merebahkan kepalanya, seraya bertengger pada sandaran kursi sembari menatap ke arah langit-langit ruang kerjanya.
Kalau Am ada bersama mereka, aku yakin mereka akan lebih cepat menyelesaikan misi ini. Secara, Am adalah orang yang lebih teliti dan lebih ahli dibandingkan diriku. Harus aku akui, walaupun Am usianya lebih muda dariku, tapi dia lebih ahli dalam menjalankan tugasnya di bidang ini. Ethan menghela napas pelan, ia mulai merasakan kekurangan pada dirinya yang selama ini tak pernah ia sadari sebelumnya.
Kira-kira, apakah Am sudah tahu mengenai fakta ini? Apakah dia sudah tahu kalau target mereka berasal dari Indonesia dan ada kemungkinan kalau target mereka membawa para korban pada titik yang sama?
Am… sebenarnya kau di mana? Tidak bisakah kau memberikan aku, Lucy, dan Aland sedikit petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini? Kenapa kau malah menghilang dan belum kembali sampai sekarang? Cepatlah kembali, banyak orang yang membutuhkan keahlianmu Am.
...***...