
...***...
"Kami akan berangkat dalam satu jam lagi, jadi kau bisa segera bersiap lalu kemari secepatnya," ujar Dekis di seberang sana.
"Ngh~ y… ya~ a… aku akan secepatnya ke sana… ahh~" Melinda menggigit kulit dalam mulutnya kuat-kuat. Andrich bergerak tanpa kontrol hingga membuatnya benar-benar kewalahan menghadapinya.
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku katakan. Kita bertemu di pelabuhan satu jam lagi."
"O… okay."
Melinda segera memutuskan sambungan suara mereka secepatnya agar Dekis tidak sadar dengan apa yang tengah terjadi.
Andrich mempercepat gerakannya, semakin cepat sampai membuat Melinda benar-benar berada di ujung puncak.
Detik berikutnya, mereka benar-benar telah menyelesaikan ronde terakhir mereka.
Andrich terbaring di samping Melinda begitu selesai memisahkan diri. Peluh membasahi seluruh tubuh berototnya.
Napas pria itu tak beraturan, dan tampak jelas dia tengah berusaha memulihkan sisa tenaganya.
Melinda beranjak perlahan. Tangannya agak sedikit gemetar karena adanya pertukaran energi berlebih yang mereka lakukan. Andrich benar-benar mempermainkan energi dalam dirinya.
Satu jam, kalau begitu kita harus berangkat secepatnya, pikir Melinda yang kemudian melangkah turun secara perlahan.
Andrich yang menyadari wanita itu merangkak turun ranjang lantas menghentikannya.
"Kau mau kemana?"
"Kita harus bersiap. Dekis baru saja menghubungiku kalau dalam satu jam lagi, kapal yang kita tunggu akan tiba. Maka dari itu, aku harus mandi terlebih dulu dan segera bersiap."
Andrich beranjak dari tempatnya. Bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Kalau begitu, ayo mandi bersamaku." Andrich menatap Melinda. Melinda tertegun begitu melihat benda itu kembali tegang tepat dihadapannya.
...*...
"Lucy! Lou!" Seseorang di seberang sana terus berteriak membangunkannya.
Lucy spontan membuka kedua matanya begitu mendengar ada seseorang yang baru saja menyerukan namanya.
Ia bangun dan duduk dari posisi berbaringnya.
"Aku menangkap sinyal lain!"
"Apa?!" Lucy segera turun dari ranjangnya dan menghampiri tempat di mana ia menaruh laptop miliknya.
"Aku sudah mengecek sinyalnya lagi, dan ada sinyal lain yang terdeteksi. Coba kau periksa."
Lucy membuka laptopnya dan mendapati sinyal lain muncul terdeteksi oleh alat mereka. Sinyal itu berada di dekat sinyal di mana Melinda dan Andrich terlacak sebelumnya.
"Sinyal ini…" Lucy diam tanpa kata. Matanya terus tertuju pada sinyal yang di lihatnya.
Perhatian Lucy kemudian beralih ketika ia secara tidak sengaja melihat titik sinyal lain.
"Ethan, apakah kau melihat sinyal lain yang bergerak di menuju arah tempatku berada?"
"Apa?"
Ethan terdengar mengutak-atik keyboard-nya sejenak.
"Kau benar, aku melihatnya, dan dari yang aku deteksi… itu adalah sinyal dari alat yang sama."
"Apa?!"
"Sinyal yang sama dengan sinyal yang kita gunakan untuk mengawasi Andrich, dan sinyal yang sama juga yang muncul di bandara."
"Dia… sial?!" Lucy beranjak bangun dari posisinya.
"Kalau itu memang benar dia, maka aku harus membangunkan yang lain." Lucy segera berlari menghampiri ranjangnya dan berusaha membangunkan Elvina.
"El!" Lucy terus mengguncang tubuhnya hingga kedua mata wanita itu terbuka perlahan.
"Lou, ada apa?"
"Gawat, kau harus bangun!" kata Lucy dalam bahasa Inggris. Elvina bangkit dari pembaringannya dengan raut wajah bingung, dia tidak mengerti kenapa secara tiba-tiba Lucy memintanya untuk bangun.
"Ada apa?"
"Dengar! Ini gawat. Rekan kami mendeteksi bahaya mendekat ke arah tempat kita berada!"
...***...