Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 646 - Sifat yang tetap sama



...***...


"Setelah kau pergi bersamaku, maka tidak akan pernah ada jalan untuk kembali. Apakah kau siap untuk mempertaruhkan itu semua? Apakah kau siap kehilangan semua yang kau miliki saat ini? Kehilangan keluarganya, dan orang-orang yang menyayangimu?" kata Louis. Jujur memang ia berharap Yeon-woo ikut dengannya seperti alasan kenapa dia datang ke sini. Tapi Louis tidak ingin dengan cara seperti ini. Dia tidak ingin Yeon-woo mengambil keputusan demikian hanya karena setelah melihat apa yang seharusnya tidak pernah ia lihat di masa ini.


"Tidak apa-apa aku terluka karena tidak bisa memenuhi janji ini. Setidaknya aku sudah tahu jawabanmu, dan aku tidak ingin membuat keegoisanku ini membuatmu kehilangan segalanya."


Yeon-woo terdiam mendengarkan ucapan dari Louis. Kalimat Louis yang terucap benar-benar terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha keras bertahan walaupun keadaan sangat menyakitkan baginya.


"Aku mengerti. Kau tidak ingin aku kehilangan semuanya kan? Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan orang lain terluka. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, terlebih setelah aku melihat semuanya, dan ternyata semua itu ada hubungannya denganku. Maka dari itu, aku akan ikut denganmu."


"Apakah kau yakin sudah mengambil keputusan yang tepat?"


"Yeah…" Yeon-woo menganggukkan kepalanya. "Lagipula, sejak kecil orangtuaku selalu menanamkan kebaikan dan selalu menasihatiku untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan."


"Ternyata kau tetap sama…," gumam Louis. Ucapan Yeon-woo barusan membuatnya teringat kembali akan Rei yang juga memiliki sifat baik hati sepertinya. Ternyata walaupun Rei bereinkarnasi, Yeon-woo sebagai reinkarnasinya tetap memiliki sifat baik hati yang sama dengan Rei. Dia juga paling tidak bisa melihat orang lain dalam kesusahan.


"Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Maka aku berterima kasih, dan maaf karena aku sudah membuatmu memilih keputusan ini."


"Tidak perlu berkata begitu. Ini adalah keputusan yang aku buat, dan sudah aku katakan juga kalau aku tidak bisa tinggal diam melihat orang lain tersakiti. Apalagi orang itu memiliki erat kaitannya denganku."


"Kalau begitu ikuti aku. Aku akan membawamu keluar dari sini, dan kita akan pergi secepatnya." Louis berbalik dan melangkahkan kakinya dengan Yeon-woo yang kini berjalan mengekor di belakang.



...*...


"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Chris dengan raut wajah cemas. Yuna menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya. Sekarang ayo pergi ke ruangan Yeon-woo. Aku ingin memastikan keadaannya."


"Sepertinya lebih baik kalau kau istirahat sebentar. Kau baru saja sadar."


"Tidak. Aku tidak akan bisa tenang kalau diam saja di sini. Aku ingin melihat anak kita. Aku harus tetap berada di sisinya agar saat dia sadar nanti, aku adalah orang pertama yang dilihatnya."


"Baiklah, ayo pergi." Chris membantu Yuna turun dari ranjangnya. Ia lalu melangkah bersama istrinya itu menuju ruangan dimana putra mereka berada.


Kebetulan ruang UGD tidak terlalu jauh dari ruangan dimana si perawat meminjamkan kamar kosong pada mereka.


Begitu keluar, Yuna dan Chris mendapati keadaan di luar yang begitu chaos. Banyak sekali dokter dan perawat yang berlarian menuju ruang UGD.


...***...