
...***...
Rei melangkah masuk ke dalam ruang kelasnya. Fokus semua orang seketika tertuju padanya yang baru saja tiba.
"Rei!" Lusia beralih pandang padanya. Gadis itu segera bangun dari duduknya dan berlari menghampiri lelaki yang menjadi kekasihnya itu.
Mereka beradu pandang sejenak sebelum akhirnya Lusia memeluknya erat.
"Aku senang akhirnya semua salah paham ini selesai," gumam Lusia. Rei tersenyum simpul, ia kemudian balas memeluknya.
"Aku juga lega semuanya sudah berakhir," balasnya.
Aku lega karena mereka sudah mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan, pikirnya.
"Apa saja yang kau lakukan di ruang BK? Kenapa begitu lama?" Gloria menghampiri Rei dengan Heru di sampingnya.
Rei dan Lusia melerai pelukan mereka, menatap ke arah Heru dan Gloria yang kini ada dihadapannya.
"Pak Riki memutuskan untuk menelusuri kembali kasusku tahun lalu."
"Benarkah? Lalu bagaimana?" Heru terlihat penasaran.
"Beliau meminta seluruh kelas XI-IV untuk dimintai keterangan, dan setelah semuanya jelas… beliau segera mengambil tindakan. Beliau mengeluarkan mereka semua."
"Lega rasanya. Lagipula mereka benar-benar orang yang selalu membuat masalah, padahal kalau kau mau, kau bisa saja menuntut mereka Rei." Gloria melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sudahlah semuanya sudah berakhir, yang terpenting rumor tentangku sudah selesai."
"Aku ikut senang." Heru tersenyum. Tak lama, beberapa teman sekelasnya yang ada di sana, mulai berdatangan menghampiri Rei dan meminta maaf karena sudah percaya dengan rumor yang terjadi. Rei dengan rendah hati memaafkan semuanya.
Kedua iris mata gadis itu tertuju pada Lusia yang terlihat begitu menempel dengan Rei. Ia menyipitkan kedua matanya, menatap tak suka pada gadis itu.
Apakah mereka berpacaran? pikirnya. Ia melirik Lusia dari atas kepala hingga ujung kakinya.
Dia memang memiliki wajah yang cantik, namun dia tidak cocok untuk Rei yang terlalu sempurna. Aku lebih cocok untuk bersama dengannya, batinnya.
Seorang lelaki tampan, berjalan dengan para gadis yang terus mengekor dibelakangnya. Merayunya dan sesekali mencari perhatian dari lelaki itu.
Ia berusaha tak mengindahkan mereka semua dan terus melangkah menuju ruang kelasnya. Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat gadis yang sejak tadi berdiri di depan ruang kelasnya.
Lelaki itu melirik ke arah yang di tatap gadis itu. Gadis itu menatap Lusia dengan wajah tidak suka.
Kenapa dia menatap Lusia seperti itu? Gerak-gerik mencurigakan. Aku harus mengawasinya, sepertinya ada yang tidak beres dengannya, batin lelaki itu. Dilihatnya gadis itu beranjak dari tempatnya, ketika hendak berbalik, kedua mata mereka secara tidak sengaja saling beradu satu sama lain.
Glup!
Lelaki itu menelan saliva-nya susah payah ketika kemolekan tubuhnya terlalu menggoda. Apalagi dengan pakaian yang nyaris membentuk tubuhnya secara utuh.
Gadis itu menggeleng, ia bergerak cepat. Berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan tempatnya berada.
Lelaki itu berbalik menghadap ke arah para gadis yang terus saja mengikutinya.
"Maaf semuanya, aku harus pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan, kita bertemu lagi nanti. Okay?" ujarnya pada semua. Raut wajah murung seketika terpancar dari para gadis yang mengikutinya itu disertai dengan suara bergumam murung dari semuanya.
"Lain kali, ayo makan siang bersama!" teriaknya pada gadis itu.
...***...