Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 257 - Sandwich



...***...


"Memangnya siapa yang kau sukai? Apakah si tukang perintah kesayanganmu itu?" Linda menggoda sahabatnya, ia menyunggingkan senyum miringnya sambil memainkan alisnya naik turun.


Elvina tersentak kaget saat dengan mudahnya Linda menebak.


"S… sudah aku katakan kalau ini tentang sahabatku!" Elvina salah tingkah jadinya.


"Oh ayolah memangnya kau pikir aku ini anak kemarin sore yang bisa dengan mudah kau tipu? Oh tidak semudah itu Ferguso!"


"Sudahlah, kalau kau tidak percaya. Aku tidak peduli." Elvina merajuk. Ia meraih sendok dan garpunya lalu mulai makan tanpa menghiraukan Linda.


Linda hanya terkekeh menanggapi Elvina yang salah tingkah karena ia terus menggodanya.


Hahaha, dia terlalu pemalu dan polos, padahal terlihat begitu jelas kalau dirinya sedang jatuh cinta. Linda menggelengkan kepalanya pelan. Detik berikutnya ia kembali pada makanannya.


Aku… jatuh cinta? Apakah mungkin? Ah, tidak mungkin aku jatuh cinta dengan Leon yang suka memerintah seperti itu. Dia itu menyebalkan dan selalu membuatku jengkel. Elvina menggeleng cepat. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya kalau ia harus memiliki hubungan lebih dari atasan dan bawahan dengan seorang Leon si tukang perintah.



...*...


Lusia menghela napas panjang. Begitu bel istirahat berbunyi, dirinya langsung berlari menuju taman guna menghindari Rei yang terus saja mengikutinya.


Lusia jadi takut sendiri gara-gara lelaki itu terus bersikap aneh.


Lusia menyandarkan punggungnya pada bangku taman berbahan besi bercat putih yang letaknya ada di bawah pohon rindang di salah satu area taman yang sepi.


Nafsu makannya hilang begitu dirinya terus di ingatkan akan kejadian beberapa waktu lalu saat ia makan bersama dengan Gloria dan yang lainnya. Rei terus saja memandanginya nyaris tanpa berkedip. Hal itu membuatnya benar-benar tidak terbiasa.


"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia jadi bersikap aneh seperti itu," gumam Lusia. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang begitu cerah.


Lusia tersentak, ia menoleh spontan ke arah lelaki yang baru saja berucap.


"Aku membelikan makan siang untukmu." Rei mengambil duduk disamping Lusia.


Gadis itu masih tak dapat berkata-kata melihat Rei yang tiba-tiba mendatanginya seperti ini.


"A… apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku cemas karena kau tidak ingin makan bersama Gloria dan Heru di kafetaria. Jadi aku pergi ke kantin untuk membelikan makanan untukmu." Rei membuka isinya lalu memberikan roti sandwich yang ia beli pada Lusia. "Makan ini."


"Untuk apa kau peduli padaku! Hiraukan aku dan berhenti menggangguku!" Lusia bangun sebelum ia semakin salah tingkah.


Baru Lusia bangun, Rei lebih dulu menahan langkahnya.


"Kau harus makan. Tidak baik mengabaikan kesehatanmu! Bagaimanapun kau harus mengisi perutmu agar kau memiliki tenaga, apalagi setelah ini kita masih harus kembali belajar."


"Tapi…"


"Duduk, dan makan ini!" Rei menarik tangan Lusia memaksanya untuk duduk, ia kemudian memberikan roti dalam genggamannya pada Lusia.


Tak ada pilihan lain, Lusia akhirnya menerima makanan yang di berikan Rei.


Dia benar-benar aneh dan memaksa, pikir Lusia. Ia menggigit sandwich nya. Lusia melirik pada Rei yang duduk di sampingnya. Lelaki itu mengeluarkan satu sandwich lain lalu memakannya.


Lusia terdiam, matanya kini tertuju pada bibir Rei yang sedang menggigit makanannya. Lusia menelan ludah.


...***...