
...***...
"Lalu untuk kalian. Bagi menjadi dua tim, sebagian cari mereka ke bandara dan pusat transportasi, lalu tanyakan evolver kita yang ada di sana dan sebarkan informasinya pada mereka. Pastikan mereka belum melarikan diri ke luar negeri. Akan sulit bagi kita untuk menemukan mereka saat mereka sudah tiba di luar negeri!" Profesor memerintahkan semuanya.
"Baik, prof. Secepatnya kami akan segera bergerak." Ron mengangguk mengerti. Ia segera beranjak dengan diikuti semua anak buahnya melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Apapun yang terjadi, kita harus menghentikan dia mendapatkan serum untuk melawan serum Evolgesysv-03 milikku!" Profesor mengepalkan tangannya erat.
...*...
"Baik di mengerti," jawab pramugara yang bertugas di sana pada seseorang yang telah memberikannya sinyal perintah untuk mencari seorang buronan yang hendak mereka tangkap.
Lelaki itu mematikan telecosys miliknya dan segera melangkah menuju tempatnya bertugas.
"Ada apa?" Salah seorang pramugari yang sama-sama seorang evolver sepertinya bertanya.
"Ada buronan yang melarikan diri. Evolver dengan seorang wanita, dan kita harus membantu mencarinya. Ada kemungkinan mereka melarikan diri ke luar negeri," jelasnya.
"Oh, ya. Aku juga baru mendapatkan peringatan itu dari tuan dan penjaga yang bertugas."
"Kalau begitu ayo kita cek setiap penumpang di kapal ini dan pastikan di antara mereka apakah ada buronan itu atau tidak."
Pramugari itu mengangguk dan berlalu meninggalkan tempat mereka mengobrol.
...*...
Pricilla masih termenung di tempatnya. Ia menatap keluar jendela dengan wajah murung. Masih berat baginya meninggalkan segalanya di Indonesia dan melarikan diri dengan Derek, lelaki asing yang bahkan baru di kenalnya tak lebih dari tiga hari.
Ia menghela napas berulang kali. Karirnya baru saja hampir mencapai puncak kejayaannya, sekarang tiba-tiba harus hancur begitu saja karena ia yang mendadak terseret dalam urusan orang lain.
Pricilla tersentak kaget saat tanpa aba-aba, Derek menarik tangannya dan memintanya untuk bangun.
"Ikut aku!" Derek menarik tangannya dan meminta Pricilla untuk bangun dari duduknya.
"Kenapa?" Pricilla tak mengerti, ia bangun sesuai ucapan Derek.
Lelaki itu menariknya menuju arah toilet yang sialnya dalam keadaan sepi.
Derek menariknya masuk ke dalam salah satu bilik dan menutup pintunya rapat agar tidak ada siapapun yang mengetahui keberadaan mereka.
Pricilla panik bukan kepalang saat Derek secara tiba-tiba membawanya ke dalam satu bilik toilet yang sama dengannya. Apa yang akan dilakukan lelaki itu padanya di dalam toilet? Pikirannya mendadak traveling.
"A… apa yang akan kau lakukan! Awas saja, berani kau menyentuhku, aku akan menyayat tubuhmu dengan pisau bedah!" Ancamnya dengan wajah pucat.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan padamu?" Derek menatapnya dengan wajah tenang.
"K… kalau kau tidak akan melakukan apa-apa padaku, lalu kenapa kau menarikku ke dalam sini?!"
"Tidak ada tempat yang aman untuk kita bicara selain di dalam sini."
"Memangnya tidak bisa kita bicara diluar saja? Aku tidak nyaman kalau harus satu toilet dengan lelaki."
"Tidak bisa! Mereka akan menangkap kita kalau bicara di luar."
"Apa maksudmu?" Pricilla mengerutkan keningnya.
"Pelankan suaramu. Biar aku jelaskan semuanya." Derek memelankan suaranya agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Baiklah, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa kau bersikap aneh begini?"
...***...