
...***...
William menatapnya penuh curiga. Tidak mungkin ia percaya begitu saja pada Joe.
"Kenapa kau diam saja? Cepat makan. Memangnya kau tidak lapar?!" Joe mendelik ke arahnya saat melihat William hanya diam tanpa menyentuh makanannya sama sekali.
"Aku tidak mau makan!"
"Kenapa?"
"Siapa yang tahu kalau kau sudah menaruh sesuatu di dalamnya? Bagaimana kalau kau sudah menaruh obat bius atau racun ke dalam makananku? Aku tidak mungkin percaya begitu saja dengan sikapmu yang berubah secara tiba-tiba seperti ini," ujar William.
"Aku tidak menaruh apapun di dalam sana. Setelah kau memakannya, kau hanya akan merasakan satu hal!"
"Apa? Kepalaku pusing setelah itu aku pingsan atau mati?" William berusaha menebak.
"Rasa kenyang, bodoh!"
"Kau yakin tidak memasukkan obat apapun ke dalam makananku?"
"Astaga, sungguh. Apakah perlu aku buktikan?" Joe mulai kesal.
"Ide bagus. Ayo buktikan! Kau cicipi semua makanan di atas meja ini agar aku yakin kau tidak menaruh apapun di dalamnya."
Joe menghela napas pelan lalu segera mencicipi semua makanan yang ada di hadapannya.
...*...
Elvina semakin resah. Ia tidak bisa tidur dengan tenang karena terus teringat akan adiknya yang sampai saat ini belum bisa ia temukan.
Elvina bangkit dari pembaringannya. Duduk sambil memegangi keningnya yang terasa sedikit pusing akibat terlalu banyak memikirkan tentang William.
Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan Will. Bagaimana dengan dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apa yang Joe lakukan dan kemana dia membawa Will? Elvina membatin.
Ia merangkak turun dari ranjang dan melangkah keluar dari dalam kamarnya.
Tiba di ruang dapur, Elvina segera mengambil air untuk membasahi tenggorokannya. Berharap dengan begitu, otaknya bisa sedikit lebih jernih.
Tukk!
Elvina melirik pada jam yang tergantung di dinding.
Jam itu menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah berjam-jam waktu berlalu, dan semakin lama, rasa cemasnya semakin meningkat.
"Ayo berpikir Elvina! Pikirkan kemana kira-kira Joe akan membawa William pergi?" Elvina memonolog. Pikirannya terus berputar, mencari segala kemungkinan yang ada.
Tidak lama, Elvina membulatkan kedua matanya sambil berdecak.
"Benar! Kenapa aku tidak kepikiran sebelumnya?"
Elvina bergegas lari menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.
...*...
"Lou, Al! Aku melihat pergerakan." Ethan berucap di seberang sana yang dalam sekejap membuat Lucy dan Aland bangkit dari sofa yang sejak tadi mereka duduki.
"Apa kau bilang?" Lucy memintanya mengulang.
"Aku melihat pergerakan dari Elvina!"
"Dia bergerak? Semalam ini?" Aland tak habis pikir.
"Mungkin dia akan mencari William lagi. Lebih baik kita juga cepat-cepat bergerak!" ujar Lucy.
"Malam-malam seperti ini?"
"Eth, kirimkan lokasinya. Kami akan segera pergi menyusulnya," kata Lucy pada Ethan di seberang sana.
"Akan secepatnya aku kirimkan," sahut Ethan di seberang sana. Lucy dan Aland segera bersiap untuk mengejar Elvina yang bergerak malam-malam seperti ini.
Begitu selesai bersiap, Lucy dan Aland segera pergi dengan menggunakan mobil. Mereka juga tidak lupa membawa barang-barang yang akan membantu tugas mereka saat ini.
"Kemana lokasinya?" Aland bertanya sambil terus melajukan mobilnya mengikuti arahan yang diberikan oleh Lucy padanya.
"Ke arah pelabuhan."
...***...