Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 250 - Dukungan orang tua



...***...


Malam tiba. Setelah selesai membasuh tubuhnya dan berpakaian dengan rapi. Leon sempat menghabiskan waktunya untuk beristirahat sebelum akhirnya turun, guna makan malam bersama dengan keluarganya.


Keluarga Leon hanya terdiri dari tiga orang yang tak lain adalah dirinya, ayah dan ibunya.


Leon sebenarnya memiliki seorang sepupu perempuan yang usianya sedikit lebih tua darinya. Dia adalah anak dari pamannya yang merupakan kakak dari ayahnya.


Namun keluarga pamannya tinggal di London, karena bibinya Leon merupakan perempuan berdarah dan berkewarganegaraan Inggris.


Semenjak pindah ke Indonesia pada kurang lebih tahun 2001, Leon sudah jarang bertemu dengan sepupunya.


Pertemuan terakhirnya adalah para usianya yang menginjak ke delapan tahun.


Saat itu, seperti tahun-tahun yang seharusnya, mereka selalu terbang ke Prancis guna mengunjungi kakek dan neneknya dan menghabiskan natal bersama. Tapi beberapa tahun setelahnya, kakek dan neneknya meninggal.


Semenjak saat itu, Leon tak pernah lagi bertemu dengan sepupunya yang bahkan sudah ia anggap sebagai kakaknya. Sangat disayangkan.



Leon duduk dalam satu meja bersama kedua orang tuanya. Mereka sibuk dengan makanannya masing-masing.


Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut masing-masing. Yang terdengar menghiasi meja makan hanyalah suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring.


"Hm." Maxime Laurent, berdeham memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti kebersamaan mereka. "Omong-omong sudah sejauh mana hubunganmu dengan Elvina?" tanyanya membuka percakapan.


Leon dan Zabrina spontan menoleh ke arahnya yang baru berujar.


"Kami baru sampai saling mengenal lebih jauh saja," jawab Leon seadanya.


"Jadi, kalian belum resmi jadian?"


"Belum, ma." Leon menggeleng.


"Kenapa kau terus mengulur waktu? Apakah kau ingin Elvina jatuh cinta pada pria lain?" Maxime tampak bingung dengan putranya yang mengulur start.


"Bukannya aku yang mengulur, tapi Elvina tidak pernah sadar kalau aku menyukainya. Aku sudah menyatakan perasaanku padanya, dan aku sedang menunggu jawaban darinya. Aku akan memberikannya waktu untuk berpikir."


"Begitu rupanya."


"Mama sangat berharap kau bisa bersama Elvina. Dia itu gadis yang baik, selain itu pintar dalam hal keuangan dan matematika, dia pasti akan sangat hebat dalam mengatur keuangan dalam keluargamu nantinya. Mama harap kalian segera jadian, setelah itu melangkah menuju jenjang yang lebih serius. Menikah." Zabrina tersenyum. Ia sangat tertarik jika membahas sebuah topik yang sudah berkaitan dengan Elvina.


Wanita cantik nan pintar yang bekerja di kantor suaminya. Sejak pertama kali bertemu dengannya, Zabrina sudah merasa tertarik akan kemampuannya. Ia makin tertarik setelah melihat kemampuannya dalam menjalankan posisinya pada bagian keuangan di kantor suaminya.


Setiap perencanaan keuangan yang dibuat dan di prediksi oleh Elvina selalu tepat sasaran. Terbukti selama setahun terakhir, semenjak Elvina bergabung dengan perusahaan suaminya, tak ada masalah di kantor yang berhubungan dengan anggaran.


"Doakan saja yang terbaik, ma, pa." Leon tersenyum simpul.


"Mama dan papa akan selalu mendukung serta mendoakan yang terbaik untukmu," ujar Zabrina yang diangguki setuju oleh suaminya.


Setelah mendengar ucapan dari mama dan papa, aku jadi semakin semangat untuk berjuang mendapatkan cintanya, pikir Leon. Ia terdiam sejenak sambil tersenyum memikirkan ucapan kedua orang tuanya, sebelum akhirnya kembali beralih fokus pada makanan yang sedang ia nikmati dihadapannya.


...***...