
...***...
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa lagi-lagi aku tidak ingat apa-apa tentang kejadian saat di taman bermain?" Leon mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengingat kembali kejadian sebelum ia kebingungan mencari Elvina yang mendadak hilang dan kembali dalam keadaan terluka.
Lagi-lagi itu terjadi. Entah kenapa sudah berkali-kali saat aku bersama dengan Elvina, aku mendadak tidak bisa ingat apa-apa mengenai sebagian kejadian. Mendadak aku terpisah dengan Elvina, dan saat aku bertemu dengannya lagi. Dia dalam keadaan terluka.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Elvina? Kenapa dia bisa sampai terluka separah itu? Dan kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian sebelum hal itu terjadi?
Berbagai pertanyaan terus menghampiri pikiran Leon. Otaknya terus berputar mencari segala kemungkinan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada wanita pujaan hatinya itu.
Semalaman, Leon malah jadi tidak bisa tidur memikirkan ketidak masuk akalan yang terjadi siang tadi.
...*...
Melarikan diri, menjadi jalan ninja untuk seorang Lusia ketika seharian harus di pertemukan dengan Rei.
Pagi-pagi ketika bertemu di ruang kelas, jam istirahat, bahkan sampai saat ini.
Lusia mempercepat langkah kakinya. Berjalan cepat keluar kelas begitu bel terakhir berbunyi. Ia berusaha menghindari Rei agar lelaki itu tak terus bertanya mengenai permintaan yang ia ajukan untuknya.
"Aku heran denganmu, bukankah saat SMP kau begitu mengejar-ngejar Rei? Tapi kenapa giliran dia mengejar-ngejarmu, kau malah terus menghindar darinya? Kau itu benar-benar membingungkan!"
Lusia menolak untuk datang ke kafetaria karena enggan untuk bertemu dengan Rei.
Lusia menghela napas panjang. Saat ini ia sedang berjalan di koridor menuju gerbang depan.
Gloria sudah lebih dulu pulang karena ia memiliki urusan mendesak yang membuatnya harus pulang lebih dulu.
Bukannya aku menolak karena tidak ingin menjadi kekasihnya. Sejujurnya aku juga masih menyukainya, tapi hatiku masih ragu apakah aku akan benar-benar bisa menerimanya setelah dia sempat mengabaikan perasaanku saat SMP dulu, batin Lusia. Ia menundukkan kepalanya dan terus berjalan dengan lesu.
Hampir semua orang di sepanjang koridor yang Lusia lewati masih membereskan buku mereka di dalam kelas, membuat koridor masih nampak sepi.
Aku sendiri tidak pernah menyangka kalau aku malah harus bertemu dengannya lagi di SMA, sialnya kenapa dia harus tinggal kelas dan berada di kelas yang sama dengan Gloria? Arghh!! Aku benar-benar menyesal karena keputusanku pindah ke kelasnya. Lusia merutuki nasibnya. Niat awalnya hanya tidak ingin berpisah dengan sahabatnya, ia malah harus dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya di kelas yang sama.
"Lusia!" teriak seseorang membuat fokusnya beralih. Lusia menoleh dan mendapati Fandy yang kini berjalan menuju arahnya. "Berikan aku kesempatan untuk berbicara denganmu!" Lelaki itu menarik tangannya.
"Aku tidak mau! Sudah aku bilang kalau aku tidak ingin berbicara atau bertemu lagi denganmu! Lagipula kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Kenapa kau terus saja menggangguku dan memaksaku untuk berbicara? Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Lusia mempertegas. Fandy, adalah lelaki yang ia jadikan pelarian, sekaligus pelampiasan atas kegagalannya mendapatkan Rei.
"Aku mau kita bicara!"
...***...